Hidayatullah.com– Iraq hari Kamis (21/7/2022) menggelar hari berkabung nasional untuk sembilan wisatawan yang tewas dibombardir saat melancong ke sebuah desa Kurdi di kawasan pegunungan. Baghdad menuding Turki sebagai pelaku serangan, sementara pemerintah Ankara menyalahkan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), organisasi yang dicap Turki sebagai teroris.
Peti mati kesembilan orang itu, terbungkus bendera nasional Iraq dan dihiasi dengan bunga, dibawa dengan pesawat ke Baghdad dari ibu kota wilayah Kurdi Arbil.
Menteri Luar Negeri Iraq Fuad Hussein dan presiden regional Kurdi Nechirvan Barzani memimpin pengusung jenazah yang membawa peti mati terkecil berisi mayat seorang anak.ke dalam pesawat militer, lapor koresponden AFP.
Di Baghdad, kesembilan jasad itu akan diserahkan kepada keluarga mereka untuk dimakamkan.
Sedikitnya empat misil menghantam kawasan wisata pada hari Rabu di desa Parakh di distrik Zakho itu juga melukai 32 orang lainnya. Kebanyakan dari mereka adalah turis domestik yang sedang menikmati wisata alam di pegunungan di kawasan Kurdistan di bagian utara Iraq dekat perbatasan dengan Turki.
Serangan itu menyulut protes anti-Turki di sejumlah daerah di Iraq.
Di Baghdad, puluhan demonstran menggelar aksi protes di luar kantor visa Turki Kamis pagi, meskipun ada banyak polisi.
Para pengunjuk rasa mengacung-acungkan potret Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berlabel “teroris” dan menginjak-injak bendera Turki.
Kementerian Luar Negeri Turki membantah bertanggung jawab atas pemboman itu, dengan mengatakan “jenis serangan seperti ini” dilakukan oleh “organisasi teroris”.
Di akun Twitter-nya, kedutaan Turki menyampaikan belasungkawa kepada “saudara kami orang Iraq yang dibunuh oleh organisasi teroris PKK”.
Ankara melancarkan serangan di Iraq bagian utara pada bulan April yang diberi nama “Operation Claw-Lock”, dengan target para petempur PKK.
Kelompok Kurdi itu telah melakukan pemberontakan guna menunut pemerintahan sendiri Kurdi di Turki bagian tenggara sejak 1984, sementara Ankara dan sekutu Barat-nya memasukkan kelompok itu ke dalam daftar hitam sebagai “organisasi teroris”.
Iraq mengatakan pihaknya menarik kembali kuasa usahanya dari Ankara dan menuntut permintaan maaf resmi dari Turki serta “penarikan angkatan bersenjatanya dari seluruh wilayah Iraq”.*