Hidayatullah.com-Turki lancarkan operasi militer skala penuh melawan pasukan rezim Bashar al Assad di Suriah utara pada Ahad lapor TRT World pada 1 Maret 2020. Menurut Menteri Pertahanan Hulusi Akar Operation Spring Shield (Operasi Perisai Musim Semi) sudah membuahkan hasil.
Dia mengatakan sejak operasi itu dimulai pada 28 Februari serangan Turki telah menghasilkan banyak target. 1 pesawat tak berawak, 8 helikopter, 103 tank, 72 senjata berat/howitzer/CNRA, 3 sistem pertahanan udara dan 2212 tentara rezim telah dieliminasi. Sebelumnya, dua jet tempur Suriah rontok dijatuhkan Turki.
“Kami tidak berniat untuk berhadap-hadapan dengan Rusia tetapi kami ingin menghentikan pembantaian warga sipil oleh rezim Assad. Target kami hanyalah pasukan rezim dan elemen yang menyerang tentara kami,” tambahnya.
Sementara itu, dua pesawat Su-24 milik rezim Assad ditembak jatuh dalam pertempuran udara dengan pesawat-pesawat Turki, kutip Kementerian Pertahanan Turki. Sementara dua sistem pertahanan udara, termasuk satu yang menjatuhkan pesawat tak berawak Turki, dihancurkan di Idlib lapor Daily Sabah pada 1 Maret 2020.
Hulusi Akar, menyatakan bahwa Turki mengharapkan Rusia menggunakan pengaruhnya untuk mengakhiri serangan rezim Bashar. Turki juga berharap mengeluarkan pasukan rezim dari perbatasan kesepakatan Sochi.
“Di bawah hak membela diri, Turki hanya akan menarget tentara rezim dan elemen Suriah di Idlib yang menyerang tentara Turki,” lanjutnya. “Tujuan kami adalah mencegah pembersihan etnis dan kejahatan perang,” tambahnya.
Akar dan pejabat militer tingkat tinggi lainnya menginspeksi tentara mereka di perbatasan Suriah pada awal Minggu ini. Kepala Staf Jenderal Yasar Guler dan para komandan Angkatan Darat dan Udara Turki memantau perkembangan terbaru di perbatasan, menurut koresponden Anadolu Agency di lapangan. Letnan Jenderal Sinan Yayla memberitahu Akar tentang kegiatan sehari-hari kendaraan udara tak berawak bersenjata, beberapa peluncur roket dan elemen manuver.
Bulan lalu, pejuang oposisi menembak jatuh tiga helikopter Assad dan dua drone pengintai Rusia di atas provinsi Aleppo dan Idlib. Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki Fahrettin Altun pada Ahad menulis di tweetnya bahwa tujuan Turki adalah untuk mencegah pembersihan etnis dan kejahatan perang di Suriah.
“Zona de-konflik di Idlib bertujuan untuk menghentikan kekejaman dan pembantaian 4 juta warga sipil di wilayah ini. Tujuan kami adalah mencegah pembersihan etnis dan kejahatan perang oleh rezim Assad serta pengungsian dan lebih banyak pengungsi. Kami dibiarkan sendirian dalam perjuangan ini!”.*