Hidayatullah.com—Olimpiade Tokyo diputuskan ditunda sampai 2021, dikarenakan wabah coronavirus masih belum menunjukkan tanda akan berakhir.
Mekipun keputusan hari Selasa (24/3/2020) itu merupakan pukulan besar bagi Jepang yang sudah menggelontorkan $12 miliar untuk persiapannya, tetapi keputusan itu melegakan ribuan atlet yang resah harus bertanding sementara dunia masih berjibaku dengan coronavirus yang sekarang sudah merenggut lebih dari 16.500 jiwa.
Setelah pembicaraan telepon antara Presiden International Olympic Committee (IOC) Thomas Bach dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, keduanya mengatakan Olimpiade yang seharusnya digelar pada 24 Juli – 9 Agustus dipindah menjadi musim panas 2021, dengan harapan wabah coronavirus telah dapat diatasi.
Api Olimpiade, yang dinyalakan pertama kali di Olimpia, Yunani, dan dibawa ke Jepang, akan dibiarkan menyala dan ditempatkan di negara tuan rumah sebagai simbol harapan.
“Olahraga bukan hal yang paling penting sekarang ini, melainkan menyelamatkan kehidupan manusia,” kata Bach seperti dikutip Asahi Shimbun. “Api Olimpiade ini akan menjadi sinar di ujung terowongan ini.”
Meskipun ini merupakan pertama kalinya Olimpiade ditunda dalam kurun 124 tahun sejarah moderen, pertandingan olahraga sedunia itu pernah dibatalkan tiga kali semasa dua Perang Dunia. Olimpiade musim panas dan musim dingin tahun 1940 yang seharusnya digelar di Jepang tidak terwujud karena Perang Dunia II. Boikot juga mewarnai Olimpiade Moskow 1980 dan Olimpiade Los Angeles 1984.
Meskipun mengecewakan, belum lagi kerumitan masalah logistik dan kerugian finansial yang harus ditanggung, jajak pendapat menunjukkan 70% warga Jepang setuju penundaan tersebut.
Penundaan penyelenggaraan Olimpiade ini sudah hampir pasti memberikan dorongan besar terhadap perekonomian Jepang, yang terbesar ketiga di dunia, ke arah resesi.
Ami Takada, 18, yang baru saja lulus sekolah menengah atas dan sedang melintas di kawasan wisata kuliner di Tokyo bertanya-tanya apakah wabah coronavirus benar-benar sudah berakhir tahun depan sehingga Olimpiade yang tertunda dapat digelar.
“Apabila mereka tidak menggelar Olimpiade, itu akan menjadi akhir bagi perekonomian Jepang,” ujar pemuda itu mengungkapkan kekhawatirannya kepada Asahi Shimbun.*