Hidayatullah.com-Keributan intrik antar agama yang ditampilkan dalam serial televisi baru –baru ini telah memicu perdebatan sengit di dunia Arab. Sebuah cerita tentang hubungan bersejarah kawasan itu dengan komunitas Yahudi dan perubahan sikap beberapa dari pemimpinnya saat ini terhadap Israel.
Para penggemar memuji program tersebut, bersetting pada tahun 1940-an dan 1950-an. Program menyoroti aspek yang sering terabaikan dari masa lalu wilayah itu – komunitas Yahudi di Teluk Persia – sambil memberikan contoh yang sangat dibutuhkan akan koeksistensi di antara berbagai agama.
Tetapi para kritikus mengecamnya sebagai upaya terang-terangan untuk membentuk kembali pandangan Arab tentang Israel. Sebuah pandangan untuk membuka jalan bagi hubungan formal, atau apa yang oleh banyak orang di dunia Arab disebut “normalisasi.”
Dengan virus corona menutup masjid dan kota suci Makkah, Ramadhan tahun ini, yang dimulai minggu lalu, sudah tercatat untuk buku-buku sejarah.
Tetapi efek virus pada bulan suci Islam hanyalah satu aspek yang akan lama diingat, seorang jurnalis terkemuka Palestina, Abdel Bari Atwan, menulis minggu ini.
Alasan lain Ramadhan ini tidak akan segera dilupakan adalah karena “ia menyaksikan kampanye normalisasi terbesar, yang didorong oleh media Saudi, dengan bantuan dari pemerintah, dan berkoordinasi dengan negara pendudukan Israel,” kata Atwan.
Kecurigaan menyebar luas bahwa drama TV historis, Mother of Aaron atau Um Haroun (Bunda Sharon), adalah bagian dari dorongan yang disponsori negara untuk mempengaruhi opini publik. Acara ini ditayangkan di MBC, penyiaran swasta terbesar di dunia Arab, tetapi akhirnya dikendalikan oleh negara Saudi.
Jaringan yang sama juga menyiarkan program komedi yang telah menyoroti sikap Arab terhadap Israel, yang semakin memicu perasaan bahwa kedua pertunjukan tersebut mencampurkan hiburan dengan propaganda. Kedua pertunjukan itu akan berlangsung sepanjang Ramadhan, ketika pemirsa televisi meroket saat keluarga menonton acara makan malam bersama setelah buka bersama hingga fajar.
Sementara MBC membantah bahwa memasukkan penggambaran positif orang Yahudi adalah bagian dari mandat pemerintah. Penampilan program televisi ini bertepatan dengan menghangatnya hubungan terhadap Israel di antara pemerintah di Teluk Persia.
Secara historis, permusuhan terhadap Israel dan simpati terhadap Palestina adalah beberapa sentimen yang mampu menyatukan orang-orang Arab di Timur Tengah. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, perang, pemberontakan dan krisis ekonomi telah membuat banyak pemerintah Arab fokus pada masalah-masalah domestik, mendorong Palestina keluar dari dalam daftar prioritas.
Pada saat yang sama, beberapa pemimpin Teluk Persia datang untuk melihat Israel bukan sebagai musuh abadi. Sebaliknya, mereka justru menempatkan kelompok Islam sendiri, sebagai sekutu potensial melawan ancaman bersama Iran dan Ikhwanul Muslimin.
Putra Mahkota Mohammad bin Salman dari Arab Saudi telah berbicara tentang minat dan tanggung jawab yang sama terhadap kepentingan perdagangan dan keamanan antara kerajaan dan Israel. Sebuah delegasi Israel diperkirakan akan berpartisipasi dalam sebuah pameran dunia di Uni Emirat Arab (UEA) tahun depan, meskipun Arab Saudi dan Emirat tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan negara Zionis tersebut.
Michael Stephens, yang mempelajari politik Teluk di Royal United Services Institute, mengatakan program televisi ini tampaknya menjadi bagian dari perubahan itu dengan melawan sejarah retorika anti-Yahudi. Setidaknya program ini menunjukkan keterbukaan baru terhadap kemungkinan hubungan resmi dengan Israel.
Mengingat tingkat kontrol pemerintahan di negara-negara Teluk, dia yakin bahwa pesan acara itu pasti telah disetujui secara resmi.
“Mereka tidak akan melakukan ini kecuali ada petunjuk dari atas bahwa itu diperbolehkan,” kata Stephens.*