Hidayatullah.com—China menghapus hewan trenggiling (pangolin) dari daftar resmi obat tradisional China, lapor koran lokal Health Times.
Hewan bersisik itu selama ini diburu hingga nyaris punah karena dipercaya memiliki khasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit. Semua kedelapan spesies hewan itu saat ini berstatus terancam punah.
Kelompok-kelompok peduli kelestarian alam menyambut baik keputusan China itu. Paul Thomson dari Save Pangolins mengatakan itu merupakan momen yang sangat berarti bagi trenggiling.
“Langkah China menghapus sisik trenggiling dari daftar obat-obatan tradisional bisa menjadi pendobrak yang kita tunggu-tunggu selama ini,” ujarnya, seperti dikutip BBC Selasa (9/6/2020).
“Kami berharap langkah selanjutnya China akan menegakkan regulasinya dan berupaya untuk mengubah perilaku konsumen,”imbuhnya.
Katheryn Wise dari World Animal Protection mengatakan keputusan itu merupakan “kabar baik” dan meningkatkan perlindungan terhadap trenggiling.
Dia menyeru agar langkah serupa diperluas ke hewan-hewan lain, “yang, seperti halnya trenggiling, diburu di alam liar dan sering kali dikurung di kandang sempit yang penuh sesak sehingga rawan menjadi tempat penyebaran penyakit mematikan.
Sekujur tubuh trenggiling ditutupi oleh sisik, yang berfungsi untuk melindunginya dari predator. Sisik itu dihargai sangat diminati oleh tabib pengobatan tradisional China dan dagingnya dianggap sebagai santapan lezat.
Menyusul wabah coronavirus yang mulai merebak akhir tahun lalu, China melarang konsumsi hewan liar hidup sebagai makanan, tetapi ada beberapa pengecualian seperti untuk obat dan diambil bulunya.
Sejak wabah Covid-19, trenggiling mendapat sorotan tajam karena diketahui membawa jenis bibit yang sama dengan coronavirus penyebab Covid-19. Para ilmuwan menyelidiki apakah penyelundupan dan perdagangan trenggiling liar kemungkinan menjadi penyebab penularan virus itu dari hewan ke manusia. Namun, sampai sekarang belum ada bukti kuat yang menyokong dugaan tersebut.*