Hidayatullah.com—Pemberlakukan penguncian wilayah di Filipina yang sangat ketat membuat banyak warga tidak dapat mengakses layanan keluarga berencana (KB) dan kemungkinan akan mengakibatkan negara itu mencatat rekor tertinggi jumlah kelahiran kurun 20 tahun terakhir.
Pembatasan pergerakan yang diberlakukan sejak Maret menghalangi baik pasien maupun petugas medis untuk mendatangi klinik selama beberapa bulan, dan sekarang kondom serta alat kontrasepsi lainnya langka di sejumlah daerah, menurut para pekerja kesehatan.
Nandy Senoc, direktur eksekutif pada Family Planning Organization of the Philippines (FPOP), mengatakan sementara stafnya terus bekerja selama lockdown, semua hasil kerja mereka dampaknya negatif. Fasilitas-fasilitas pemerintah secara resmi tetap buka, tetapi pada kenyataannya warga tidak dapat mengakses pelayanan.
Negara mayoritas berpenduduk Katolik itu sejauh ini mencatat 35.400 kasus coronavirus dan wilayah ibu kota Metro Manila yang paling parah terdampak. Total 1.244 orang tercatat meninggal dunia akibat coronavirus di negara itu.
FPOP mendorong para wanita agar menggunakan kontrasepsi jangka panjang, dan klinik-klinik yang dikelolanya memberikan suplai pil KB dalam jumlah besar kalau-kalau pembatasan pergerakan diberlakukan kembali.
“Namun, masalahnya sekarang kami kekurangan pasokan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa layanan kesehatan reproduksi tidak dianggap prioritas dalam kebijakan pemerintah selama pandemi, lansir The Guardian Senin (29/6/2020).
Diperkirakan jumlah wanita yang tidak dapat mengakses layanan KB selama lockdown naik seperlima menjadi 3.688.000. Proyeksi ini, yang dibuat oleh University of the Philippines Population Institute dan United Nations Population Fund (UNFPA) memperkirakan tambahan 214.000 bayi akan dilahirkan tahun depan sebagai akibat kehamilan tidak terencana yang disebabkan lockdown semasa wabah coronavirus. Itu artinya kemungkinan akan ada 1,9 juta kelahiran pada tahun 2021, terbanyak dari tahun manapun sejak 2000.*