Hidayatullah.com—Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz tiba di NEOM pada hari Rabu (12/08/2020), di mana dia diharapkan untuk menghabiskan waktu “untuk istirahat dan penyembuhan,” menurut kantor berita negara SPA.
“Penjaga Dua Masjid Suci Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud tiba di NEOM di mana dia akan menghabiskan waktu untuk istirahat dan penyembuhan,” SPA melaporkan.
Raja Salman dirawat di Rumah Sakit Spesialis King Faisal di Riyadh bulan lalu untuk pemeriksaan medis karena peradangan di kantong empedu. Dia kemudian menjalani operasi untuk mengangkat kantong empedu, yang berhasil dan Raja Salman keluar dari rumah sakit tidak lama kemudian.
NEOM adalah bagian dari Visi Arab Saudi 2030 dan mencakup proyek berteknologi tinggi yang didukung oleh energi angin dan matahari serta ruang olahraga, fasilitas konser, dan restoran.
Berdekatan dengan Laut Merah dan Teluk Aqaba, dan berada di dekat jalur perdagangan maritim yang menggunakan Terusan Suez, NEOM memberikan fasilitas untuk perkembangan yang cepat sebagai pusat aktivitas global yang memiliki potensi yang mengantarkannya menjadi terbaik di Jazirah Arab, Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.
Kota futuristik yang para penghuninya akan dilayani oleh robot itu bertujuan untuk menawarkan kepada para penghuninya “sebuah gaya hidup yang sangat indah yang dipasangkan dengan peluang ekonomi yang sangat baik yang melampaui kota metropolitan lainnya. Ini akan menarik warga Arab Saudi dan ekspatriat, juga masyarakat internasional lainnya,” kata Dana Invesatasi Publik (PIF) yang diketuai oleh Pangeran Muhammad bin Salman dalam sebuah pernyataan pada Oktober 2017, dilansir oleh Arab News.
NEOM adalah proyek utama dalam rencana ambisius untuk mempersiapkan Arab Saudi memasuki era pasca-minyak, yang mengikuti rencana penjualan saham di perusahaan raksasa minyak Saudi Aramco, penciptaan dana kemakmuran independen terbesar di dunia dan pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan.
Kota bisnis dan industri yang berlokasi di wilayah barat laut Arab Saudi dengan pemandangan pantai sepanjang 468 km itu merupakan zona pertama di dunia yang menjangkau tiga negara, membentang di perbatasan dengan Yordania dan Mesir.*