Hidayatullah.com—Jajak pendapat terbaru menunjukkan orang-orang di Amerika Serikat sudah kehilangan kepercayaan baik terhadap tokoh maupun institusi yang memberikan informasi tentang Covid-19 kepada mereka sejak awal merebaknya penyakit baru itu.
Studi yang dilakukan Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research bersama USAFacts menunjukkan terjadi penurunan drastis pada persentase orang yang mengaku mempercayai informasi tentang Covid-19 yang mereka dapat dari pemerintah setempat, pers, media sosial dan teman serta keluarga, dibandingkan dengan masalah yang sama pada bulan April.
Sebagian besar orang Amerika mengatakan sulit untuk mengetahui apakah informasi yang mereka terima akurat. Hanya 16% yang mengaku mempercayai informasi coronavirus dari Presiden Donald Trump, angka itu turun dari 23% pada bulan April. Sekarang, orang yang menyatakan sedikit atau sama sekali tidak percaya pada informasi tentang Covid-19 yang disampaikan Trump menjadi 64%. Hanya media sosial yang dianggap kurang dipercayai, yaitu menurut 72% orang.
Menurut pakar-pakar bidang kesehatan, sains dan komunikasi politik, mereka melihat tiga alasan mengapa kepercayaan itu turun, yaitu akibat rasa takut, politik dan karena publik melihat perubahan informasi dari kalangan sains secara waktu nyata.
Kathleen Hall Jamieson, seorang profesor komunikasi dari University of Pennsylvnia, mengatakan publik seolah-olah melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan sosis. Menurutnya, Trump menambah kebingungan publik dengan menggembar-gemborkan obat malaria hydroxychloroquine manjur untuk mengobatasi Covid-19, sementara pada saat yang sama pakar-pakar sains terkemuka, media arus utama dan berbagai penelitian menyatakan obat itu tidak terbukti manjur untuk mengatasi coronavirus.
Akibatnya, orang berpikir, “Ya ampun, sains sekarang semakin membingungkan saja. Saya tidak tahu siapa yang harus dipercaya,” kata Jamieson seperti dilansir The Guardian Selasa (20/10/2020).
“Fakta bahwa kepercayaan itu menurun di semua kategori, termasuk penyedia layanan kesehatan, keluarga dan teman, menunjukkan bahwa masyarakat sekarang ini merasa tidak aman,” kata David Ropeik, pensiunan dosen komunikasi risiko dari Harvard.*