Hidayatullah.com–Putaran negosiasi berikutnya antara Taliban dan pemerintah Afghanistan akan diadakan di Qatar mulai bulan depan, kata seorang pejabat tinggi. Qatar tetatp menjadi tuan rumah meskipun baru-baru ini Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menyerukan agar mereka dipindahkan pulang.
Perundingan perdamaian dimulai pada 12 September di sebuah hotel mewah di Doha, tetapi negosiasi saat ini sedang jeda hingga 5 Januari.
“Putaran kedua pembicaraan akan dimulai pada 5 Januari di Doha,” kata Faraidoon Khwazoon, juru bicara Dewan Tinggi untuk Rekonsiliasi Nasional Afghanistan, yang memimpin proses perdamaian secara keseluruhan di negara itu, Ahad (27/12/2020). “Komite kepemimpinan dewan… memutuskan untuk mengadakan pembicaraan di Doha,” demikian ciutanya di twitter, menambahkan bahwa banyak negara yang sebelumnya secara sukarela menjadi tuan rumah pembicaraan menarik tawaran mereka karena Covid-19.
Dalam pernyataan terpisah, kepresidenan mentweet bahwa Ghani dan Abdullah Abdullah, yang memimpin dewan, mengadakan pertemuan pada hari Ahad. Keduanya “membahas tempat untuk putaran pembicaraan berikutnya”, setelah Ghani mengumumkan dukungan pemerintah untuk pembicaraan tahap kedua dengan Taliban, kata kepresidenan.
Sebelumnya pada bulan Desember, negosiator dari kedua belah pihak memutuskan untuk istirahat setelah berbulan-bulan pertemuan yang seringkali membuat frustasi yang terhambat oleh perselisihan mengenai kerangka dasar diskusi dan interpretasi agama. Sebelum istirahat, para perunding akhirnya mengumumkan bahwa mereka siap untuk melanjutkan daftar awal agenda ketika pembicaraan dilanjutkan pada 5 Januari.
Tetapi Ghani dan beberapa pejabat tinggi Afghanistan lainnya segera menyerukan agar pertemuan putaran berikutnya diadakan di Afghanistan. “Tidak pantas ngotot ngobrol di hotel-hotel mewah. Rakyat perlu melihat bagaimana pembicaraan itu terjadi, masalah mana yang menjadi fokus dan mengapa,” kata Ghani segera setelah jeda pembicaraan diumumkan.
Taliban tidak mengomentari seruan Ghani, tetapi mereka di masa lalu selalu menolak untuk mengadakan negosiasi di Afghanistan. Kelompok bersenjata memiliki kantor politik di Doha dan tim negosiasinya berada di sana.
Pembicaraan itu menyusul kesepakatan penarikan pasukan penting yang ditandatangani pada Februari oleh Taliban dan Washington, yang akan membuat semua tentara asing meninggalkan negara yang dilanda kekerasan itu pada Mei tahun depan.
Rencana untuk negosiasi baru datang di tengah gelombang kekerasan di seluruh Afghanistan dalam beberapa bulan terakhir, termasuk di Kabul, yang telah menyaksikan serangan bom rutin dan pembunuhan yang ditargetkan terhadap tokoh-tokoh terkemuka.*