Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Ancam Pemberontak Komunis, Presiden Filipina: ‘Bunuh Mereka Semua’

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 6 Maret 2021 23:23 11:23 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 7 Maret 2021 05:30
Bagikan
Pemberontak komunis Filipina
Bagikan

Hidayatullah.com — Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah memperintahkan militer dan pasukan keamanan untuk “menghabisi” dan “membunuh” semua pemberontak komunis di negaranya. Pernyataannya ini memicu kekhawatiran akan gelombang pertumpahan darah baru yang mirip dengan perang mematikan Filipina melawan narkoba.

“Saya telah memberi tahu militer dan polisi, bahwa jika terlibat baku tembak dengan pemberontak komunis, bunuh mereka, pastikan kalian membunuh mereka, dan menghabisi mereka jika mereka masih hidup,” kata Duterte pada Jumat, dalam rapat pemerintah yang bertujuan melawan komunisme.

“Lupakan hak asasi manusia. Itu perintah saya. Saya bersedia dipenjara, tidak masalah,” tandasnya, berbicara dalam bahasa asli Visayan yang biasa digunakan di pulau selatan Mindanao, di mana rapat dilangsungkan.

“Saya tidak ragu melakukan hal-hal yang harus saya lakukan.”

“Kalian semua bandit. Kalian tidak punya ideologi. Bahkan China dan Rusia sekarang adalah kapitalis,” ucap Duterte, menujukan perkataannya kepada para pemberontak komunis.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Di saat yang sama, dia menjanjikan mereka pekerjaan, tempat tinggal dan mata pencaharian jika mereka menyerah.

Pemberontakan yang terjadi berpuluh tahun

Pemberontak komunis telah berperang melawan pemerintah di Filipina sejak 1968 – salah satu pemberontakan Maois paling lama di dunia. Menurut pihak militer, pemberontakan telah merenggut lebih dari 30.000 nyawa selama 53 tahun terakhir.

Beberapa presiden telah berupaya menyelesaikan konflik ini namun gagal mencapai kesepakatan damai dengan pemberontak, yang pemimpinnya, Jose Maria Sision sekarang mengasingkan diri di Belanda.

Ketika dia mencalonkan diri sebagai presiden pada 2016, Duterte berjanji akan mengakhiri pemberontakan melalui perundingan damai, menegaskan hubungannya dengan para komandan pemberontak ketika dia masih menjabat sebagai walikota Kota Davao di Mindanao, di mana pemberontakan komunis masih aktif.

Setelah menjabat, Duterte memerintahkan perundingan langsung dengan komunis, hanya berakhir dengan baku tembak antara militer dan pemberontak.

Menyusul bentrokan sengit antara pasukan pemerintah dan pemberontak pada tahun 2017, Duterte membatalkan proses perdamaian dan kemudian menandatangani proklamasi yang menyebut para petempur komunis sebagai “teroris”.

Dia juga membujuk pasukan pemerintah untuk menembak pemberontak perempuan di alat kelamin mereka sebagai hukuman, dan menawarkan hadiah untuk setiap pemberontak yang terbunuh.

Baca juga: Duterte Setujui ‘UU Otonomi Bangsamoro’, Mewadahi Minoritas Islam

Kemudian pada tahun 2018, satuan tugas khusus melawan komunisme dibentuk oleh presiden untuk memburu para pemberontak dan pendukungnya.

Namun, para kritikus dan aktivis hak asasi manusia mengatakan bahwa badan khusus itu juga dikerahkan untuk melawan politisi berhaluan kiri arus utama dan kritikus Duterte lainnya.

Beberapa pejabat administrasi Duterte juga telah dituduh “tanpa pandang bulu” mencap siapa pun yang mengkritik presiden, termasuk akademisi, jurnalis dan aktivis, sebagai “komunis”.

Dengan ancaman terbarunya pada hari Jumat, sekarang ada kekhawatiran bahwa hal itu dapat memicu lebih banyak kekerasan serupa dengan perang melawan narkoba, yang menurut pemerintah dan kelompok hak asasi telah menewaskan antara 6.000 dan lebih dari 27.000 orang.

Pada tahun 2020, pemerintahan Duterte juga berhasil mendorong pengesahan Undang-Undang Anti-Teror, yang telah diperingatkan oleh beberapa analis hukum dapat juga digunakan sebagai payung hukum untuk lebih banyak pelanggaran pemerintah.

Dalam pidatonya pada hari Jumat, Duterte mengakui bahwa dia “tidak mengerti” apa yang diperjuangkan para pemberontak.

“Kalian telah berjuang dalam 53 tahun terakhir dan sekarang, saya sudah memiliki cicit dan Kalian masih berjuang,” katanya.

“Kalian ingin menggulingkan pemerintah? Kalian bahkan tidak punya perahu.”*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Jose Maria Sisionkomunispemberontakan komunisPresiden FilipinaRodrigo Duterte
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perdana Menteri Malaysia Umroh Kunjungi Arab Saudi, Perdana Menteri Malaysia Sempatkan Umroh
Tulisan selanjutnya Minum Miras untuk Obat, Su’ul khotimah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?