Hidayatullah.com—Tujuh dokter yang berpendirian anti-vaksin jatuh sakit setelah awal bulan ini menghadiri “KTT” di Florida, Amerika Serikat, yang membahas tentang pengobatan alternatif untuk Covid-19.
“Saya sudah mengkonsumsi ivermectin selama 16 bulan, saya dan istri,” kata Dr Bruce Boros kepada para hadirin di acara yang digelar di World Equestrian Center di Ocala, seraya menambahkan: “Saya tidak pernah merasa sesehat ini dalam hidup saya.”
Dokter kardiologi berusia 71 tahun itu, yang dikenal sangat menentang vaksin, terpapar Covid-19 dua hari kemudian, menurut panitia penyelenggara Dr John Littell seperti dilansir The Guardian Selasa (23/11/2021).
Littell, seorang dokter keluarga di Ocala, juga mengatakan kepada Daily Beast bahwa enam dokter dari 800-900 peserta acara tersebut dites positif atau menunjukkan gejala Covid-19 beberapa hari setelah konferensi.
Meskipun demikian, Littel menolak keras apabila acara yang digelarnya disebut sebagai penyebar coronavirus.
“Saya kira mereka tertular di New York atau Michigan atau lainnya tempat asal mereka,” katanya kepada Daily Beast.
“Semuanya sejauh ini merespon baik pengobatan dengan ivermectin … Bruce baik-baik saja,” imbuhnya.
Namun, Daily Beast juga mengutip sumber lain yang dekat dengan Bruce Boros yang mengatakan bahwa dokter itu sakit parah di rumahnya di Key West.
Di laman Facebook Boros mengklaim ivermectin “ampuh di mana obat itu dipakai di seluruh dunia” untuk mengobati Covid.
Pada bulan Juli dalam wawancara dengan Florida Keys Weekly, Boros mengklaim bahwa dirinya memberikan ivermectin kepada seorang pasien Covid-19 yang parah dan hasilnya “dalam enam jam dia berbicara tanpa disertai batuk”.
Di Ocala, Boros mengkritik ayahnya sendiri yang berusia 97 tahun karena mau disuntik vaksin Covid-19. ” Dia sudah dicuci otaknya … Dia disuntik. Dia tidak memberi tahu saya. Saya sangat kesal. Saya ingin memukul pantatnya. Dia disuntik dua kali.”
Ivermectin merupakan obat antiparasit yang adakalanya dipakai untuk manusia, tetapi utamanya diberikan kepada hewan ternak seperti sapi dan kuda. Pihak berwenang mengatakan tidak ada bukti obat itu manjur untuk mengobati Covid-19 yang disebabkan oleh virus.
US Food and Drug Administration belum membolehkan atau menyetujui penggunaan ivermectin sebagai obat Covid-19 dan mengatakan uji kliniknya masih terus berlanjut. FDA juga mengatakan bahwa ivermectin yang diperuntukkan manusia berbeda dan bila dipakai dalam jumlah banyak akan berbahaya.
Awal tahun ini, sebuah penelitian signifikan yang mendukung ivermectin sebagai obat Covid-19 dicabut setelah diketahui datanya dipalsukan dan pasien-pasien yang konon terlibat dalam uji klinik itu sebenarnya tidak ada sama sekali.*