Hidayatullah.com–Presiden Kazakhstan
Kassym-Jomart Tokayev menyatakan negara dalam keadaan darurat selama dua pekan setelah aksi protes menentang kenaikan harga bahan bakar bermunculan di sejumlah daerah, kata kantor kepresidenan Rabu pagi (5/1/2021).
Protes pada hari Selasa terjadi setelah pihak berwenang mencabut batas harga gas minyak cair (LPG), yang mendongkrak harga bahan bakar naik secara signifikan.
Selama status darurat, jam malam diberlakukan dari pukul 23:00 sampai 07:00, pergerakan warga dibatasi dan kerumunan massa dilarang, menurut dokumen resmi seperti dilansir DW.
Dua wilayah yang di-lockdown adalah ibukota Almaty, dan provinsi di bagian barat Mangystau.
Menyusul lonjakan harga bahan bakar, unjuk rasa besar yang diikuti ribuan orang digelar di pusat minyak Mangystau di Zhanaozen.
Demonstrasi menyebar ke bagian lain Mangystau dan ke arah barat Kazakhstan termasuk provinsi di bagian tenga Aktau dan kamp pekerja Tengizchevroil.
Polisi menggunakan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan massa dari lapangan utama di Almaty hari Rabu dini hari. Kantor berita AFP melaporkan lebih dari 5.000 orang memadati pusat kota Almaty Selasa malam.
“Seruan untuk menyerang kantor-kantor pemerintah dan militer merupakan tindakan ilegal,” kata Tokayev dalam sebuah pidato.
“Pemerintah tidak akan jatuh, tetapi kami ingin saling percaya dan dialog daripada konflik.”
Daerah Mangistau bergantung pada LPG yang menjadi bahan bakar sebagian besar kendaraan. Lonjakan harga bahan bakar juga mempengaruhi harga makanan, yang naik secara substansial sejak awal pandemi virus corona.
Kebanyakan kendaraan warga Kazakhstan menggunakan LPG yang lebih murah dibanding bensin karena harganya dipatok. Pemerintah mencabut patokan harga LPG pada 1 Januari dengan alasan harga murah tidak dapat dipertahankan lebih lama.
Menanggapi protes masyarakat, lewat Twitter hati Selasa Tokayev mengatakan akan menurunkan harga LPG seperti yang diminta rakyat. Namun, janji Tokayev itu sepertinya tidak diindahkan dan unjuk rasa terus berlanjut.*