Hidayatullah.com–Lebih banyak wanita dibandingkan pria yang dibunuh di Austria tahun lalu, hal yang langka di kalangan negara anggota Uni Eropa.
Tiga puluh satu wanita dibunuh di negara kecil di kawasan pegunungan Alpina berpenduduk 8,9 juta yang dikenal sangat aman itu pada tahun 2021 saja.
Angkanya setiap tahun berfluktuasi, tetapi antara 2010 dan 2020 sebanyak 319 wanita dibunuh. Kebanyakan pembunuhan dilakukan oleh suami atau belas suami mereka, menurut hasil studi yang ditugaskan oleh pemerintah. Ini adalah salah satu yang tertinggi di UE, menurut data Eurostat seperti dilansir AFP Selasa (18/1/2022).
Sementara pembunuhan kaum Hawa memicu demonstrasi besar di Prancis maupun Meksiko, isu ini sangat jarang dibahas di Austria. Masalah ini menjadi perdebatan publik setelah sejumlah kejahatan mengerikan terjadi terhadap perempuan.
Pada 5 Maret 2021, seorang wanita berusia 35 tahun yang diidentifikasi sebagai Nadine W dijerat lehernya dengan kabel di toko tembakaunya oleh bekas pasangannya lalu dibakar hidup-hidup. Dia meninggal dunia satu bulan kemudian di rumah sakit akibat luka-lukanya
Kemudian di bulan April, pemilik sebuah kedai bir ditangkap karena membunuh bekas pasangannya, ibu dari dua anak. Pria berusia 43 tahun itu, yang kemudian dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, sudah dikenal publik setelah seorang aktivis lingkungan ternama mempublikasikan pesan-pesan tidak senonoh yang dikirimkannya ke laman Facebook wanita tersebut pada 2018.
Sejak itu masalah kejahatan terhadap wanita mendapatkan perhatian pemerintah, yang mengalokasikan anggaran hampir €25 juta untuk tahun 2022.
Tahun 2022 baru saja dimulai ketika momok ini merenggut korban lain: seorang wanita berusia 42 tahun ditembak di bagian kepala oleh suaminya ketika sedang berada di meja makan.
Guna memastikan para wanita yang dibunuh tidak dilupakan begitu saja, aktivis perempuan Ana Badhofer mencantumkan nama-nama korban di sebuah dinding di ibukota.
Karin Pfolz, aktivis yang mengalami sendiri neraka selama sepuluh tahun pernikahannya, masih ingat kesepian ekstrem yang dirasakannya.
“Anda tidak memiliki siapa pun untuk diajak bicara. Begitu banyak dari kita yang diam karena malu, karena takut akan reaksi masyarakat,” kata Pfolz, yang sekarang mengunjungi sekolah-sekolah untuk berbagi pengalaman.
“Dari luar, kekerasan tidak terlihat, bekasnya tersembunyi. “Mata hitam itu klise,” katanya.
Secara proporsional, di Rusia atau Brazil – dua negara yang kerap dipandang membahayakan bagi wanita – angka pembunuhan terhadap wanita justru lebih rendah dibandingkan Austria, negara yang jauh lebih makmur dan relatif tenang, di mana ada hukum dan jaringan dukungan bagi wanita, kata Maria Rösselhumer, pimpinan AÖF, asosiasi utama yang menjalankan pusat penerimaan kasus kekerasan terhadap perempuan.
Menurut Rösselhumer ada beberapa faktor penyebab. Di negara Katolik itu para wanita banyak yang hanya menjadi ibu rumah tangga atau bekerja paruh waktu. Bahkan seringkali perempuan tidak sanggup (secara finansial) apabila harus angkat kaki dari rumah suami atau pasangan yang bertindak kasar.
Perempuan memperoleh pendapatan 20% lebih sedikit daripada pria, kesenjangan gaji yang paling lebar di Uni Eropa kecuali dibandingkan dengan Estonia dan Lithuania.
Dalam kondisi ini, sedikit yang berani mengambil risiko untuk angkat kaki dari rumah karena “ketika Anda pergi, Anda mendapati diri Anda di jalanan dengan kantong plastik di satu tangan dan anak Anda di tangan lainnya,” papar Pfolz.
Dia sendiri mengaku bahwa ketika melarikan diri, dia merasa “seperti seorang pengungsi di negaranya sendiri”.
Rösselhumer juga menyebut “kurangnya rasa hormat dan adanya penghinaan terhadap perempuan” dalam ranah politik. Di mana machisme meninggkat antara 2017 dan 2019 ketika pemerintahan dikuasai kaum konservatif dan sayap kanan.
Pada Desember 2021, Austria dikritik oleh Council of Europe’s Human Rights Commissioner Dunja Mijatovic, yang menyerukan agar negara itu menyediakan “sumber daya yang cukup” dan “pendekatan yang ambisius dan komprehensif” dalam mengatasi isi kekerasan terhadap perempuan.*