Sambungan artikel PERTAMA
Prancis: Tidak Aman Bagi Imigran
Sama seperti Inggris, Prancis memiliki jumlah penduduk yang sudah cukup tinggi karena imigran dan tingkat kesuburan. Prancis mengalami pertambahan penduduk yang dinamis, bahkan di kota-kota kecil dan desa-desa.
Selain itu, negara tersebut memiliki sejarah buruk terhadap para penduduk pendatang mereka. Selepas Paris Riot pada 2013 lalu, polisi masih sering berpatroli di Paris untuk mencegah aksi ‘terorisme’. Sentimen-sentimen terhadap Muslim juga masih tumbuh subur.
Presiden Prancis Francois Hollande bukannya tidak berbuat apa-apa. Ia telah memutuskan untuk mengikuti undang-undang negaranya bahwa ‘semua penduduk diperlakukan setara.’ Namun peraturan tersebut tidak menolong para imigran yang datang ke Prancis.
Di Amerika Serikat, program yang sama membantu anak-anak imigran untuk keluar dari kemiskinan dan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang baik. Namun di Prancis, karena Pemerintah tidak mendata ras, etnisitas, dan agama, yang berguna jika sebuah kasus diskriminasi terjadi, maka mereka yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan karena ketiga hal tersebut tidak dapat berbuat banyak. Sebuah studi juga menunjukkan bahwa lamaran pekerjaan yang mencantumkan nama yang non-Prancis lebih mungkin ditolak.
Bukan karena Pemerintah tidak mau menerima pengungsi. Bukan pula karena tidak ada lapangan pekerjaan. Namun karena penduduknya tidak sudi berasimilasi, maka jadilah Prancis negara yang tidak menerima gelombang besar pengungsian dari Suriah tersebut.
Hongaria, Slovakia, dan Eropa Timur Lainnya: Karena Mereka Muslim
Meski penduduk mereka berkurang, dan akan terus berkurang, ‘negara-negara –ia’ seperti Hongaria dan Slovakia terang-terangan menolak pengungsi yang tidak menggunakan Alkitab sebagai kitab suci mereka.
Hongaria memandang pengungsi beragama Muslim sebagai ancaman bagi negara mereka yang didominasi oleh agama Kristen, meski diprediksi pada 2030, populasi Hongaria akan menyusut 5,8% dari populasi sekarang. Negara tersebut termasuk ke dalam salah satu negara dengan penyusutan tercepat di Eropa Timur tanpa adanya pengungsi.
Jika Hongaria menyusut, maka Slovakia menua. Institut Penelitan Demografi Infostat mencatat bahwa pada 2050, jumlah penduduk yang masuk usia pensiun (65 tahun ke atas) hampir setara dengan mereka yang berusia produktif tinggi (15-44 tahun), dengan usia produktif rendah (45-64) mebayang-bayangi. Mereka yang segera pensiun akan makin banyak.
Meski begitu, Slovakia terang-terangan menyerukan bahwa mereka hanya menerima pengungsi beragama Kristen dan menolak mereka yang Muslim. Estonia dan Bulgaria juga membatasi masuknya para pengungsi.
Meski alasan mereka absurd, namun negara-negara tersebut memang sebaiknya tidak dituju oleh imigran. Dengan angka pengangguran tinggi dan ekonomi lemah, Eropa Timur bukan tanah harapan bagi para pengungsi Muslim. Bahkan jika mendadak para fanatik agama tersebut mendadak tersadar bahwa mereka perlu orang asing muda untuk mengisi negara mereka.*/Tika Af’idah