Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Perang Rusia-Ukraina Penderitaan Pisang Ekuador

Ama Farah
Terakhir diupdate: 5 April 2022 13:40 1:40 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 5 April 2022 13:39
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

Hidayatullah.com–Sampai belum lama ini, kesibukan di perkebunan pisang Ekuador seperti tidak ada hentinya, menandakan komoditas pertanian itu laku keras. Namun beberapa pekan belakangan, peperangan membungkam kesibukan bisnis pisang itu. Bukan perang di negara Amerika Selatan itu atau di tetangganya, melainkan di seberang samudera di belahan bumi lain, perang antara Rusia dan Ukraina.

Ekuador adalah eksportir pisang terbesar dunia. Sekarang, akibat perang di Ukraina, hasil panen pisang hanya menumpuk tidak jauh dari tempat mereka tumbuh.

“Satu dari setiap lima pisang yang diproduksi di Ekuador dikirim ke Ukraina dan Rusia,” kata Franklin Torres, presiden federasi produsen pisang Ekuador FENABE.

“Oleh karena itu perang ini benar-benar mempengaruho kami,” ujarnya seperti dikutip AFP Senin (4/4/2022).

Sebagian besar pisang itu dibawa ke Rusia, di mana penjualan pisang mendatangkan devisa $698 juta setahun bagi Ekuador, yang biasanya mengirimkan hampir dua juta kotak pisang ke negara-negara di kawasan Eropa Timur setiap pekan.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Namun, karena sanksi transportasi internasional atas invasinya ke Ukraina, Rusia tidak menerima kargo pisangnya.

Konflik telah menghentikan produksi di El Triunfo, dekat Guayaquil, lokasi pelabuhan utama Ekuador.

“Produsen pisang sudah tamat, saya belum mengemas satu kotak pun selama tiga pekan,” kata Mireya Carrera, 62, pemilik perkebunan pisang Thalia.

“Para pekarja pergi sendiri tanpa dipecat karena saya tidak bisa mengupah mereka.”

Pengusaha itu biasa mengisi tiga kontainer dengan 3.000 kotak pisang masing-masing seberat 20 kilogram (43 pon) dari kebunnya seluas 28 hektar.

“Sekarang saya memiliki 7.000 tandan tanpa pembeli,” katanya kepada AFP.

Harga anjlok

Sebelum perang, industri pisang sudah menderita akibat anjloknya harga.

Torres mengatakan biayanya $5,50 untuk memproduksi sekotak pisang, dan meskipun harga penjualan internalnya adalah $6,25, “saat ini kami menerima kurang dari $2 untuk setiap kotak pisang, kami menerima $1 atau $1,20.”

“Sungguh, ini merupakan penghinaan terhadap jenis bisnis apa pun. Apa yang kami terima memalukan dan bahkan tidak layak untuk diambil.”

Dia mengatakan industri pisang telah kehilangan “lebih dari $ 10 juta dalam tiga minggu.”

“Setiap tahun kami menghadapi masalah harga rendah, tetapi sekarang tidak mungkin mendapatkan kontrak untuk pisang. Saya lebih suka membagi-bagikannya,” kata Carrera.

Melihat surplus pisang di Ekuador, pasar lain “mulai mengurangi penawaran harga mereka,” kata Richard Salazar, presiden asosiasi untuk komersialisasi dan ekspor pisang ACORBANEC.

Menurut Jose Antonio Hidalgo, direktur asosiasi eksportir pisang AEBE, dalam waktu sepekan setelah perang dimulai, pisang yang ditujukan ke Rusia dan Ukraina membutuhkan pasar baru, “menyebabkan krisis harga.”

Sekitar satu juta kotak masih belum terjual dalam sebulan terakhir.

Surplus membuat harga domestik ikut anjlok, serikat bisnis pisang memutuskan untuk menyumbangkannya untuk program pangan lokal.

Ekuador memiliki 160.000 hektar perkebunan pisang pada tahun 2021 yang menghasilkan penjualan hampir $3,5 miliar di seluruh dunia.

Negara Amerika Selatan ini memiliki lebih dari 260 eksportir pisang.

Industri pisang menghasilkan 50.000 pekerjaan langsung dan 250.000 pekerjaan tidak langsung di Ekuador.

Perang di Ukraina telah menyebabkan sekitar 6.000 karyawan tetap kehilangan pekerjaan mereka, menurut ACORBANEC.

Kesulitan juga dialami perkebunan El Porvenir di Puerto Inca, yang bertetangga dengan Guayaquil.

Setelah menjual lebih dari 1.000 kotak “apa yang kami terima habis untuk membayar upah,” kata pengelola perkebunan Lourdes Cedeno.

El Porvenir sudah memotong upah pada bulan Maret setengah dari semestinya.

Produsen pisang, yang berunjuk rasa di Guayaquil pekan lalu, ingin pemerintah membantu mereka dengan cara membeli buah mereka untuk program makanannya.

Presiden Guillermo Lasso menolak dengan alasan “tidak realistis, dan kita harus menjualnya ke pasar laindi dunia”.

Akan tetapi menurut Salazar, “Menempatkannya di pasar lain adalah utopia. Tidak ada pasar lain di dunia yang dapat membeli sebanyak Rusia,” katanya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:eksporEkuadorperangpisangrusiaUkraina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Semarakan Ramadhan, BMH Salurkan 12.000 Botol Air Mineral ke Masjid, Mushola dan Pesantren
Tulisan selanjutnya Perusahaan Wakaf

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Berita
14 Juli 2026 19:51
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?