Hidayatullah.com– Pihak berwenang di wilayah Amhara di bagian utara Ethiopia mengatakan mereka telah menangkap lebih dari 4.500 orang, termasuk seorang mantan komandan tentara.
Penangkapan itu dikatakan sebagai bagian dari “operasi untuk menegakkan hukum dan ketertiban,” yang diumumkan pekan lalu.
Kepala keamanan wilayah Amhara Desalegn Tassew mengatakan kepada sejumlah media yang dikelola pemerintah pada hari Senin bahwa mereka yang ditangkap dicurigai menyebarkan pelanggaran hukum, lansir BBC Senin (23/5/2022).
Termasuk yang ditangkap adalah Brigjen Teferra Mamo, mantan komandan Amhara Special Forces, yang bersekutu dengan tentara dalam perang melawan pasukan Tigray. Dia bersikap kritis terhadap pemerintah setelah dicopot dari posisinya pada bulan Februari.
Setidaknya lima wartawan juga ditangkap di wilayah tersebut, dua di antaranya merupakan komentator televisi lainnya yang kritis terhadap pemerintah Addis Ababa.
Organisasi yang berafiliasi dengan pemerintah Ethiopian Human Rights Commission (EHRC) mengatakan banyak dari penangkapan itu dilakukan tanpa surat perintah pengadilan yang layak dan kebanyakan tahanan tidak dapat dikunjungi oleh anggota keluarganya.
Penangkapan itu bertepatan dengan upaya pemerintah wilayah Amhara untuk mendaftar senjata-senjata api milik pribadi, kebijakan yang dianggap penentangnya sebagai upaya untuk melucuti senjata Fano, semacam perkumpulan pemuda.
Kelompok-kelompok Fano itu ikut berperang bersama tentara pemerintah melawan pasukan pemberontak Tigray dalam perang sipil yang berkecamuk saat ini. Mereka diduga terlibat dalam pelanggaran HAM berat di Tigray.
Beberapa bentrokan dilaporkan terjadi antara pasukan keamanan pemerintah dan kelompok-kelompok pemuda pekan lalu di berbagai tempat.*