Hidayatullah.com– Iran “tidak akan pernah melupakan” pembunuhan komandan militer Iran Qassem Soleimani oleh Amerika Serikat, kata pemimpin spiritual tertinggi Syiah Ali Khamenei hari Rabu (2/11/2022), seraya menambahkan bahwa Teheran tetap berkomitmen menuntut balas kematiannya.
“Kami tidak akan pernah melupakan kemartiran Soleimani … Kami telah mengatakan sesuatu tentang (pembalasan untuk Soleimani), dan kami kukuh pada kata itu. Pembalasan itu akan dilakukan pada waktunya sendiri, di tempatnya sendiri, insya Allah,” kata Khamenei, seperti dilansir Alarabiya.
Soleimani tewas dalam serangan udara AS di Iraq pada 3 Januari 2020, yang diperintahkan oleh Presiden Donald Trump saat itu. Dia merupakan komandan Pasukan Quds, cabang luar negeri dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Komitmen dendam kesumat itu diutarakan Khamenei saat berpidato dalam peringatan kejatuhan Kedutaan AS di Teheran tahun 1979, ketika terjadi Revolusi Iran yang dimotori oleh pemimpin Syiah Ayatollah Ruhollah Khamenei.
Para pendukung Ruhollah Khamenei menyerang dan menduduki kompleks Kedutaan Besar AS di Teheran pada November 1979 dan menyandera 52 warga Amerika selama 444 hari.
Beberapa bulan setelah penyerangan itu, Washington memutuskan hubungan diplomatik dengan Teheran pada 1980.
Belakangan ini, ketika aksi unjuk rasa anti-pemerintah merebak di berbagai daerah di Iran menyusul kematian Mahsa Amini pada 16 September di tangan polisi moral setelah dianggap melanggar aturan berhijab, lagi-lagi Khamenei menuding AS, Israel dan negara-negara Eropa sebagai biang keroknya.*