Hidayatullah.com–Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menanggapi isu larangan ‘wahabi’ yang mencuat dari rilis rokemendasi Lembaga Dakwah PBNU. Yahya mengatakan kemungkinan ‘wahabi’ akan menjadi salah satu yang dibahas oleh para tokoh agama, sekte dan aliran kepercayaan dari berbagai dunia di forum R20.
“Insya Allah (dibahas di R20),” katanya, usai pembukaan Forum Agama G20 (R20) di Nusa Dua, Bali, Rabu (2/11/2022).
Yahya juga menyebut rilis hasil rekomendasi soal permintaan pemerintah melarang paham Wahabi belum resmi menjadi sikap dari ormas Islam tersebut.
“Itu kan pembicaraan di antara mereka yang belum resmi karena bukan dari PBNU,” kata Yahya.
Namun, menurutnya, perbedaan antara kelompok agama memang harus dibahas dan dipikirkan sehingga tidak menyulut pertentangan.
“Perbedaan-perbedaan dari kelompok-kelompok agama itu, bagaimana semua ini tidak menyulut pertentangan, tetapi kita bisa menyepakati sesuatu yang bisa kita usung bersama,” katanya.
Sebagai informasi, Lembaga Dakwah PBNU merupakan organisasi otonom di bawah PBNU. LD PBNU ini sempat menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Asrama Haji Jakarta, 25-27 Oktober 2022.
Salah satu hasil rekomendasi Rakernasnya yakni agar pemerintah membuat regulasi yang melarang penyebaran apa yang mereka sebut sebagai ‘paham Wahabi’ melalui majelis taklim, media online maupun media sosial di Indonesia.