Hidayatullah.com– Vatikan mengabarkan bahwa Joseph Ratzinger, mantan paus Benediktus XVI, saat ini dalam kondisi sakit parah. Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma saat ini, Paus Fransiskus, memperingatkan bahwa kesehatan pendahulunya itu terus memburuk dan meminta agar umat Katolik mendoakannya.
Mantan paus Benediktus XVI sakit parah setelah mengunjungi abangnya yang juga sakit di Jerman pada bulan Juni dan sekarang “sangat lemah”, menurut sejumlah laporan media seperti dilansir RFI Rabu (28/12/2022).
Vatikan hari Rabu mengkonfirmasi kesehatan Benediktus XVI yang berusia 95 tahun memburuk beberapa jam terakhir dan dia sudah dijenguk oleh Paus Fransiskus.
“Saya dapat memastikan bahwa dalam beberapa jam terakhir telah terjadi kondisinya memburuk disebabkan usianya yang sudah lanjut. Situasi saat ini tetap terkendali, dipantau terus oleh para dokter,” kata juru bicara Vatikan Matteo Bruni dalam sebuah pernyataan.
Sebelumnya, Paus Fransiskus mengakhiri audiensi umum hariannya dengan mengajak melakukan “doa khusus untuk paus emeritus Benediktus”. Fransiskus meminta umat Katolik untuk “mengingatnya, karena dia sakit parah, meminta Tuhan untuk menghibur dan memberikan kekuatan untuknya”.
Pada 2013, Benediktus XVI menjadi paus pertama yang mengundurkan diri dalam kurun enam abad terakhir, dengan alasan kesehatan fisik dan mental yang menurun. Sejak itu dia jarang terlihat di muka publik, dan dikabarkan fisiknya sebagai semakin lemah.
Paus emeritus asal Jerman yang bernama asli Joseph Ratzinger itu setelah pensiun tinggal di sebuah bangunan bekas biara di Vatikan.
Awal tahun ini, sekretaris lama Benediktus, Uskup Agung Georg Gaenswein, kepada Vatikan News mengatakan bahwa mantan paus itu “secara fisik relatif lemah dan rapuh”, tetapi “dalam semangat yang baik”.
Benediktus XVI berusia 78 tahun ketika ia menggantikan Yohanes Paulus II yang telah lama memimpin dan sangat populer pada April 2005.
Benediktus menjadi paus pertama yang meminta maaf atas skandal seksual di lingkungan rohaniwan dan gereja yang muncul di seluruh dunia, mengungkapkan “penyesalan yang mendalam” dan bertemu langsung dengan para korban.
Namun, ketika dia mengambil langkah-langkah untuk mengatasi pencabulan anak oleh pendeta, dia sendiri dikritik karena dulu pernah tidak bertindak dan justru menutupi kasus ketika pendeta bawahannya melakukan pelecehan. Abangnya sendiri, yang juga seorang pendeta, dituduh terlibat dalam skandal serupa.
Sebuah laporan untuk gereja Jerman pada Januari 2022 menuduhnya secara pribadi gagal menghentikan empat pendeta predator pada 1980-an, saat dia menjabat sebagai uskup agung Munich.
Benediktus membantah melakukan kesalahan.
Dia mengundurkan diri pada Februari 2013 dalam sebuah pengumuman yang disampaikan kepada para kardinal dalam bahasa Latin, kemudian mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil “setelah mendapatkan wahyu”.*