Hidayatullah.com–Dalam sebuah laporan PBB, dua pengiriman dari Korea Utara untuk badan persenjataan kimia pemerintah Suriah telah dicegat dalam enam bulan terakhir.
Laporan berisi 37 halaman itu, yang dilihat oleh Reuters kemarin, tidak menjelaskan detail di mana atau kapan muatan itu disita, tetapi menyatakan bahwa muatan itu sedang diselidiki.
“Dua negara anggota (PBB) mencegat pengiriman yang ditujukan untuk Suriah,” dokumen itu mengungkapkan. “Negara anggota lainnya memberitahukan panel bahwa pihaknya memiliki alasan untuk mempercayai bahwa barang di dalamnya merupakan bagian dari kontrak KOMID dengan Suriah,” seperti yang dilaporkan oleh Middle East Monitor, Selasa 22 Agustus 2017.
Baca: Pemimpin Eropa: Semua Bukti Serangan Senjata Kimia Mengarah Bashar al Assad
KOMID merujuk pada Kerjasama Perdagangan Tambang Korea, sebuah organisasi yang telah dimasukkan ke daftar hitam Dewan Keamanan PBB sejak 2009 dan dianggap sebagai pengekspor misil balistik dan penjual senjata utama Korea Selatan.
“Penerima barang tersebut merupakan entitas Suriah yang oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat disebut sebagai perusahaan Studi ilmiah dan Pusat Penelitian (SSRC) Suriah, sebuah entitas Suriah yang diidentifikasi oleh panel PBB sebelumnya pernah bekerja sama dengan KOMID dalam pengiriman barang terlarang,” laporan para ahli itu menyebutkan.
SSRC telah mengelola pengembangan senjata kimia rezim Suriah sejak 1970.
Meskipun rezim Suriah mengaku telah menghancurkan semua senjata kimiannya pada 2013, terdapat sejumlah insiden di mana gas sarin dan klorin digunakan terhadap penduduk sipil di beberapa kota.
Insiden terakhir penggunaan senjata kimia dilaporkan terjadi pada bulan lalu, ketika kelompok oposisi menuduh pemerintah menggunakan klorin di Ghouta Timur, menyebabkan 30 orang mati tercekik gas tersebut.
Ini bukanlah pertama kalinya dugaan perdagangan senjata antara kedua negara itu terjadi. Pada 2013, International Business Times melaporkan bahwa Korea Utara telah menyuplai Suriah dengan teknologi terbaru untuk mengubah senjata kimia menjadi hulu ledak. Perwakilan Korea Utara dan Suriah di PBB belum merespon laporan tersebut.*