Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kabar dari Suriah

Nushairiyah: Ideologi Di Balik Krisis Suriah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Juli 2012 10:00 10:00 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Juli 2012 10:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Jika krisis di Suriah dilepas dari semua unsur ekternal, seperti upaya kekuatan-kekuatan dunia untuk mempertahankan pengaruhnya, faktor keamanan Israel, serta “proyek bulan sabit” Syiah Shafawiyah (Iran), maka yang tersisa di dalam sebenarnya ada dua: Ahlus Sunnah dan sekte Syiah, baik itu Rafidhah ataupun Nushairiyah. Dengan kata lain, salah satu faktor penting yang justru memainkan peran yang sangat besar dalam krisis di Suriah adalah faktor ideologi atau agama.

Faktor ideologi ini, khususnya Nushairiyah, merupakan akar krisis Suriah, yang menjadi “bara dalam sekam” yang kemudian baru mencuat ke permukaan publik dunia lewat Syrian Spring.

Nushairiyah sendiri merupakan salah satu gerakan Bathiniyah, yaitu aliran yang mengklaim adanya tafsiran batin yang eksklusif terhadap teks-teks syariat. Tafsiran batin itulah yang merupakan pengetahuan sejati, yang luput dari mayoritas manusia. (al Hawali, 2010: 70).

Gerakan ini pecah dari induk semangnya, Syiah Itsna ‘Asyariyah, lewat propaganda pendirinya, Abu Syu’aib Muhammad ibn Nushair al Bashri al Numayri (270 H). Ibn Nushair, yang namanya kelak menjadi simbol bagi gerakan ini, mendaulat diri sebagai “al bab” atau gerbang rohani manusia kepada Imam Hasan al Askari (imam ke-11 Syiah Itsna ‘Asyariyah) dan Imam Mahdi (imam ke-12 Syi’ah Itsna ‘Asyariyah).

Dalam segi pemikiran, aliran ini memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan sekte-sekte radikal dan ekstrim dalam Syiah, khususnya Qaramithah dan Itsna ‘Asyariyah. Mereka mengimani ketuhanan atau sifat semi-ilahiyah sahabat Ali ibn Abi Thalib, memiliki ritual ganjil dan sistem organisasi yang penuh rahasia dan tertutup.

Baca Juga

muslim spanyol
Muslim di Spanyol Ungkap Bahwa Setiap Jumat Seorang Warga Menjadi Mualaf
Pemimpin Rezim Suriah, Bashar Assad dan Istrinya Positif Covid-19
Rezim Assad Suriah Telah Menyiksa 98 Orang Sampai Mati dalam 2 Tahun Terakhir
PBB Prihatin Meningkatnya Kekerasan di Idlib Suriah setelah Serangan Rezim
Pakistan Kirim Bantuan Medis Terbesar Sejak Mewabahnya Covid-19

Sebagian rahasia dan keyakinan sekte ini terbuka ke dunia luar di abad ke-13 Hijriyah. Saat itu, seorang pengikut setia sekte Nushairiyah bernama Sulaiman Afandi al Adzni terpengaruh gerakan misi dan beralih ke agama Nasrani. Dia kemudian melarikan diri ke Beirut. Di sana, dia menulis buku berjudul al Bakurah al Sulaimaniyah. Dia mengungkap ajaran-ajaran Nushairiyah serta kritik yang dia ajukan dari sudut pandang barunya sebagai pemeluk Nasrani.

Terang saja buku tersebut membuat gempar dan menjadikan dia buronan Nushairiyah. Tapi pengikut Nushairiyah memilih jalan licik. Keluarga al Adzni, yang loyal kepada ajaran sekte, membujuk dan mendekati al Adzni untuk pulang kampung.

Setelah usaha yang tak kenal lelah, al Adzni akhirnya masuk perangkap. Dia bersedia pulang kampung dengan jaminan keamanan. Setelah tiba di wilayah Nushairiyah, Ladziqiyah (Latakia, Suriah), pengikut sekte mencekiknya dan membakar jasadnya di tempat terbuka. (al Juhani, 2003: 390-394).

Dalam masyarakat Suriah modern, pengikut Nushairiyah diperkirakan 10% dari total penduduk, atau sekitar 1.700.000 jiwa. Setengah abad yang lalu, mereka mendiami daerah-daerah pinggiran, mengingat keyakinan mereka yang jauh dari Islam dan umatnya. Tapi lewat pengikutnya, Hafiz al Assad yang merebut kekuasaan di Suriah tahun 1970 M, orang-orang Nushairiyah melakukan mobilisasi dan berpenetrasi ke pemerintahan dan militer. Pejabat-pejabat tinggi negara dan militer yang umumnya Nushairi, pindah mukim ke kota-kota besar Suriah.

Model pemerintahan yang dikembangkan oleh Hafiz al Assad sejak berkuasanya adalah pemerintahan yang sektarian (al hukm al tha’ifi), yang bertumpu pada pengikut Nushairiyah. Lingkaran kekuasaan hanya terdiri dari pengikut sekte tersebut atau keluarga dekat Hafiz al Assad.

Partai Ba’ats yang merupakan partai pemerintah tidak lebih sebagai ornamen politik belaka. Dari tahun 1975 hingga 2000 M, partai ini hanya empat kali melakukan muktamar. Itupun sekadar untuk melegitimasi kepentingan politik Hafiz al Assad dan sarat rekayasa. Model politik ini juga yang kemudian dilanjutkan oleh diktator yang sekarang, Bashar al Assad. (Taqrir Irtiyadi al Bayan, 2012: 155-167).

Kekuatan Syiah Itsna ‘Asyariyah, baik itu yang ada di dalam maupun yang lewat Iran, juga menjadi faktor yang turut memberi saham mengakarnya pengikut Nushairiyah di sendi-sendi kehidupan strategis di Suriah. Tak heran jika Yusuf al Shagir, pengamat politik dunia Islam menyebut Suriah sebagai: Dawlah al Bathiniyah al Muttahidah atau “negara bathiniyah serikat”.*/Haedar Bazargan

Artikel ini adalah hasil kerjasama hidayatullah.com dengan majalah Al Bayan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pendatang Zionis Serbu Masjidi Aqsha, Berniat Lanjutkan Tembok Rasial
Tulisan selanjutnya Pernyataan Hai’ah al Syam al Islamiyah terkait Inisiatif Penyesaian Konflik Suriah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU

Feature
29 Agustus 2026 10:49
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Kabar dari Suriah

Krisis Roti di Provinsi di Bawah Kontrol Rezim Assad di Suriah sedang Berkembang

20 Oktober 2020 21:40
Kabar dari Suriah

Rezim Assad Berada di Balik Protes terhadap Turki di Idlib Suriah, Sumber Keamanan Mengatakan

12 Oktober 2020 10:15
Kabar dari Suriah

Serangan Bom Truk di Al-Bab Suriah Menewaskan Sedikitnya 18 orang

7 Oktober 2020 11:05
Kabar dari Suriah

Rami Makhlouf: Penipuan Terbesar di Timur Tengah terjadi di Suriah

30 September 2020 19:15
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?