Hidayatullah.com–Pemerintah Turki mengatakan hasil autopsi dari para korban serangan di Suriah utara pada Selasa (04/04/2017) menunjukkan senjata kimia memang digunakan dalam serangan itu.
Berdasarkan pemeriksaan terhadap korban yang dirawat di dalam wilayah Turki, Menteri Kehakiman Bekir Bozdag mengatakan hasil autopsi mengukuhkan bahwa senjata kimia memang digunakan dalam serangan itu.
Bekir Bozdag dikutip BBC mengatakan pasukan militer Suriah di bawah pemerintahan Presiden Bashar al-Assad bertanggung jawab. Namun Bozdag tidak menyebut nama bahan zat kimia yang digunakan. Dia juga tidak memberikan bukti-bukti yang mungkin membuktikan bahwa versi kejadian yang diberikan oleh pemerintah Suriah dan sekutunya, Rusia, salah.
Baca: Turki Pastikan Serangan Udara di Khan Sheikhoun Gunakan Senjata Kimia
Sebagaimana diketahui, pasca serangan udara di Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib, yang dikuasai kelompok oposisi, sebagian korban luka-luka dibawa ke Turki untuk mendapatkan perawatan, tiga di antara mereka kemudian meninggal dunia.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Turki, Recep Akdağ mengatakan ada bukti gas sarin di dalam sampel darah dan air kencing korban cedera dalam serangan di Kota Khan Sheikhoun tersebut.
Ia mengatakan, kesimpulan itu memberikan “bukti kuat” adanya penggunaannya senjata kimia dalam serangan berkenaan.
Autopsi pada korban serangan dugaan zat kimia di Kota Khan Sheikhoun menuju Turki dilakukan tak lama selepas serangan itu dengan pantauan WHO.
menunjukkan gejala paparan zat saraf yang mirip dengan sarin, serta bahan kimia yang kedua memungkinkan adalah klorin.
Recep Akdağ mengatakan, isopropyl asam methylphosphonic, bahan kimia yang mana sarin dimasukkan ditemukan ada di dalam sampel darah dan urin yang diambil dari pasien yang tiba di Turki.
Senada dengan WHO dan lembaga medis MSF mengatakan, sebagian korban mengalami gejala-gejala yang konsisten dengan paparan zat saraf.
Jika hasil tes di Turki benar, akan menambah tegangan kepada tuduhan oleh kekuatan barat bahwa rezim Bashar al Assad yang menggunakan gas sarin dalam salah satu serangan besar-besaran yang paling dahsyat dalam konflik selama enam tahun ini.*