Hidayatullah.com– Rencana penggunaan staf pengajar dari intrelijen Israel (Mossad) untuk sekolah intelejen di Batam rupanya membuat perhatian Wakil Presiden Hamzah Haz. Menurut Hamzah, perlu diberi perhatian dengan sikap berwaspada dan didahului dengan cara berunding dengan pihak berkait, misalnya Majelis Ulama. Seperti dikutip Kompas Kamis (10/7/2003) lalu, Wakil Presiden Hamzah Haz mengatakan perkara ini perlu dilakukan agar usaha meningkatkan mutu intelijen tidak menimbulkan masalah baru. “Kita harus hati-hari jangan sampai kebijakan meningkatkan kualitas justru menimbulkan masalah yang baru,” ungkap Hamzah Haz yang ditemui wartawan di Istana Wapres, Jakarta. Berdasarkan penjelasan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Asad, Institut Intelijen Negara di Sentul dan Sekolah Intelijen Internasional di Batam, sedang mempertimbangkan staf pengajar dari Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA), KGB dari Rusia, dan Mossad dari Israel. Semuanya masih dalam perencanaan selama penggunaan staf pengajar tersebut dimungkinkan. Wapres menilai, masyarakat Indonesia seharusnya memaklumi bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas intelijen Indonesia memang diperlukan staf pengajar yang merupakan ahli serta profesional dalam bidangnya. Namun, lanjut Hamzah, harus dilakukan melalui pranata yang tidak menimbulkan konflik. Kepala BIN AM Hendropriyono kepada wartawan Selasa (8/7) mengatakan, sekolah intelijen yang didirikan di Indonesia merupakan yang pertama kali di dunia. Kepada wartawan Hendro menampik jika pendirian sekolah intelijen di Indonesia dianggap atas inisiatif Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya telah membuka pusat studi terorisme dengan Malaysia. “Pendirian sekolah intelijen dimaksudkan sebagai sebuah ilmu dan seni yang dilihat dari berbagai persepektif dan aspek,” katanya, didampingi Rektor Universitas Indonesia Prof Usman Chatib Warsa. Menurut Hendropriyono, gagasan pendirian sekolah intelijen bermula dari pertemuan multilateral intelijen se-ASEAN di Jakarta pada Juni 2002 lalu. Waktu itu, Presiden menyampaikan bahwa di masa depan tantangan global bersifat multidimensional dan ancaman bersifat transnasional. Hal itu perlu dirumuskan jawaban yang formatnya dari sebuah sudut pandang ilmu. Menurut rencana, mahasiswa sekolah intelijen ini berasal dari berbagai negara di ASEAN dan negara lainnya. Jumlahnya pada tahap awal sebanyak 100 mahasiswa. Untuk sekolah intelijen di Batam keluarannya bergelar master, sedangkan di Sentul bergelar sarjana strata-1 (S1). Seperti dimuat di berbagai media, dua hari lalu, Presiden Megawati meresmikan sekolah intelijen internasional di pulau Batam, dekat dengan negara Singapura. Tetangga Indonesia yang selama ini dikenal sebagai tangan kanan gerakan Zionis dan Yahudi di Asia Tenggara (kmp/bh/cha)