Hidayatullah.com–Polda Jatim menerjunkan satuan intelijen dan reserse, masing-masing dua unit, untuk mengamankan jalannya tablig akbar Jamaah Tabligh (JT) di Pesantren Al Fatah Teboro, Kabupaten Magetan, Jatim. Selain itu, aparat Polda Jatim juga men-sweeping dengan cara memeriksa isi tas dan badan peserta tablig akbar yang baru datang melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Kapolda Jatim Irjen Pol Drs Heru Susanto seperti dikutip Suara Merdeka hari ini mengenai sistem dan pola pengamanan tablig akbar di Magetan itu, mengemukakan, apa yang dilakukan polisi dengan men-sweeping peserta masih dalam batas wajar. “Itu prosedur yang harus kami lakukan demi keamanan kita bersama. Kita tak melanggar KUHAP kok,” ujar Heru, Jumat siang kemarin, di Mapolda Jatim Surabaya. Orang pertama di Polda Jatim ini mengemukakan, “Tak ada pengamanan khusus terkait tablig akbar di Magetan tersebut. Kami mengamankan jalannya tablig akbar itu sebagaimana pengamanan pada umumnya. Jadi, bukan spesial sifatnya. Kami ingin mengamankan agar kegiatan tablig yang dilaksanakan di Magetan berjalan aman.” Berdasarkan pelacakan dan sweeping yang dilakukan polisi di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, jelas Irjen Heru, hasilnya positif. Maksudnya, tak ada peserta tablig akbar yang membawa senjata tajam atau barang berbahaya lain yang dilarang hukum. “Semua peserta dari Ujungpandang dan Pontianak yang datang lewat kapal laut di Tanjungperak kami periksa dan hasilnya sangat positif. Maksudnya, mereka tak membawa senjata tajam atau barang berbahaya lainnya,” ungkapnya. Terhadap keberatan pihak lain atas sweeping yang dilakukan polisi, Heru mengungkapkan, “Sweeping disayangkan, kenapa? Kita ingin aman atau tidak. Kecuali sweeping-nya ditelanjangi, itu jelas berlebihan. Kalau sekadar kami periksa tas dan lainnya, kami tanya identitasnya, itu prosedural, wajib hukumnya. Coba polisi tak melakukan itu, lantas terjadi apa-apa, lalu yang disalahkan siapa. Jika dikatakan sweepingtu terlalu berlebihan, saya kira kok nggak. Kecuali mereka kami suruh lepas baju. Pokoknya, orang yang ikut tablig akbar itu kami data semua.” Jumlah personel intelijen dan reserse yang diterjunkan untuk mengamankan kegiatan di Magetan itu masing-masing dua unit. Jumlah tersebut masih ditambah personel reguler dari satuan kewilayahan kepolisian lokal. Selain itu, Polda juga mempersiapkan beberapa personel Brimob sebagai satuan cadangan. “Jika jumlah pesertanya besar, ya jumlah personel keamanannya juga kami tambah. Jadi, sifatnya fleksibel,” tutur mantan Wakapolda Jatim ini. Tanggal 31 Agustus ini, bertempat di Pesantren Al Fatah Temboro, Magetan dilangsungkan tablig akbar. Kegiatan ini menurut rencana diikuti lebih kurang 20.000 umat Muhammad SAW dari seluruh Indonesia. Umumnya, peserta datang ke Magetan dengan menumpang kapal laut dan turun di Pelabuhan Tanjungperak Surabaya. Di sini, mereka di-sweeping polisi. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan dengan bus ke Magetan. Tablig akbar tersebut berlangsung di Pesantren Al Fatah. Pondok yang diarsiteki Kiai Mahmud itu berdiri sejak 1950. Kini, pesantren salaf tersebut memiliki 5.000 santri. Sejak 1950 sampai sekarang, pondok yang berlokasi sekitar 300 kilometer dari Kota Surabaya ini telah meluluskan 50.000 santri. Mereka tersebar di seluruh Indonesia. Kamis, (28/8/03), Sekretaris Umum MUI Pusat, Dr Dien Syamsudin di Surabaya, disela-sela menghadiri Rapat Koordinasi Antar Daerah VII MUI se-Jawa mengecam tindakan sweeping yang dilakukan terhadap Jamaah Tabligh yang hendak pergi ke Pondok Pesantren Al Fatah, Temboro, Magetan untuk mengikuti acara tabligh akbar. Mantan Tim Pencari Fakta (TPF) Bom Bali, Isa Anhori saat diminta komentarnya mengenai ini mengatakan, langkah polisi dengan men sweeping itu tindakan berlebih-lebihan. Bukan tidak mungkin suatu saat, orang sedang sholat juga digeledah, katanya. (sm/cha)