Hidayatullah,com—Wartawan Hidayatullahcom, Abdul Hadi Damanik, bersama tiga wartawan Antara, kemarin petang (2/1/05) berhasil masuk kota Meulaboh setelah menumpang pesawat helikopter tentara AS dan truk TNI.
“Dari Lanud Blangbintang, pada pukul 13.34 kami berangkat ke Meulaboh dengan menumpang pesawat helikopter tentara AS. Tapi tidak langsung ke Meulaboh, melainkan singgah sejenak ke kapal induk USS Abraham Lincoln yang berlabuh di Selat Malaka untuk mengisi bahan bakar. Setelah itu terbang lagi, tapi juga tidak langsung ke Meulaboh, melainkan mendarat di Lanud Cut Nyak Din di kabupaten Nagan Raya, pada pukul 17.00. Dari situ kemudian melanjutkan perjalanan dengan truk TNI ke Meulaboh selama satu setengah jam. Kami melewati bekas desa-desa nelayan yang sudah rata dengan tanah. Yang kelihatan tinggal air,” kisah Abdul Hadi Damanik, yang akrab disapa Ahmad.
“Kampung kami hancur karena diterjang ombak tsunami setinggi pohon kelapa,” ungkap Misri, seorang nelayan setempat kepada Ahmad.
Para wartawan ini kemudian menginap di markas Kompi C, TNI AD, di Meulaboh.
Pada pagi harinya keempat wartawan tersebut berkesempatan berkeliling kota Meulaboh dengan menyewa sebuah mobil angkutan umum, selama lima jam hingga tengah hari.
Dari pantauan itu nampak masyarakat Meulaboh mulai menunjukkan aktivitas kehidupannya. Pasar tradisional mulai dibuka. Sebagian masyarakat mulai membenahi rumah-rumah mereka yang hancur. Alat-alat berat seperti traktor, yang merupakan sumbangan dari pemerintah Singapura sudah mulai bekerja di sejumlah ruas kota.
Yang menggembirakan, dari pantauan itu ternyata kerusakan di Meulaboh tidak separah yang diperkirakan Wapres Jusuf Kalla. Sebelumnya Kalla memperkirakan 80 persen kota Meulaboh hancur. Sedangkan menurut pantauan para wartawan kerusakan hanya sekitar 60 persen saja. “Memang pemukiman di dekat pantai rusak parah, namun kondisi di tengah kota tidak seberapa hancur. Masih banyak rumah berdiri,” ujar Ahmad.
Di Meulaboh para wartawan sempat berjumpa dengan Bupati Aceh Barat, Syahbuddin.
Menurut Syahbuddin, penduduk Meulaboh dan sekitarnya yang tewas berjumlah sektiar 7.000 orang. Sebagian besar mayat sudah dimakamkan. Sebagian lagi di masih dicari di antara tumpukan puing-puing.
Para pedagang mulai berani membuka tokonya setelah mendapat jaminan keselamatan dari Danrem Teuku Umar, Kolonel Jirham Antara. Pasar dan pusat pertokoan mendapat kawalan sejumlah tentara untuk menghindari terjadinya penjarahan oleh masyarakat.* (shw)