Hidayatullah.com– Pegiat jurnalistik yang juga seorang wartawan media internasional, Pizaro Gozali, angkat suara menyikapi kasus, berdasarkan rekaman video, seorang fotografer media India menyerang mayat seorang pria yang tergeletak tak berdaya setelah ditembak polisi.
“Apa yang dilakukan wartawan (fotografer) tersebut telah meruntuhkan nilai-nilai jurnalistik yang dia pegang. Jurnalis saat bertugas dilarang melakukan tindakan kekerasan. Bahkan bertindak kasar pun tidak dibolehkan,” ujar Pizaro kepada hidayatullah.com pada Senin (27/09/2021) saat dimintai tanggapannya.
Pizaro yang pernah menjadi Ketua Umum Jurnalis Islam Bersatu (JITU) periode 2018-2021 ini mengingatkan, walau berbeda pendapat dengan narasumber, seorang jurnalis pun harus menghormati narasumber tersebut. “Tindakan ikut melakukan kekerasan terhadap seseorang dalam sebuah peliputan adalah tindakan yang biadab. Apalagi orang itu baru saja ditembak aparat,” tegas alumnus S-2 Universitas Paramadina Indonesia ini.
Dalam diktum jurnalistik, jelasnya, media adalah penyambung suara kemanusiaan. Media menjadi suara bagi orang-orang yang tidak bisa bersuara (voice of voiceless) serta penyambung lidah bagi orang-orang tertindas.
“Seperti dokter yang menyelamatkan kehidupan seseorang, jurnalis juga bisa menyelamatkan ribuan jiwa dengan berita-berita mereka,” imbuhnya.
Pizaro menambahkan, etika dalam jurnalistik juga menuntut seorang jurnalis untuk adil, transparan, dan bebas intervensi.
“Dalam video tersebut, terlihat sang jurnalis embed dengan polisi rezim India. Sebagai wartawan embed, dia harus sadar bahwa dia tidak boleh jadi kepanjangan tangan rezim. Dia harus berani bertindak independen dan mengungkap fakta-fakta di lapangan. Bukan kemudian melegetimasi tindakan kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian,” pungkasnya.
Sebelumnya, Dilaporkan Al Jazeera Jumat (24/09/2021), dalam video yang belum diverifikasi secara independen tersebut, seorang pria dengan membawa tongkat kayu tampak berlari menuju sekelompok polisi yang dilengkapi senjata api dan tongkat kayu, di desa Sipajhar distrik Darrang negara bagian Assam hari Kamis.
Fotografer itu, diidentifikasi bernama Bijoy Bania, juga tampak berada di antara anggota polisi bersenjata, yang tiba-tiba melepaskan tembakan bertubi-tubi ke arah korban.
Begitu korban tumbang akibat tembakan polisi, hampir belasan polisi bergerak mengepungnya dan terus memukulinya dengan tongkat.
Korban, yang diidentifikasi polisi sebagai Moinul Haque, tergeletak tak berdaya di tanah, noda merah tampak di pakaian sederhana yang dikenakannya menandakan bagian tubuhnya yang ditembak. Sesaat itu pula Bania kemudian berlari dan melompat untuk menginjak korban di bagian kepala, leher dan perut. Dia juga meninju tubuh korban. Aksinya tersebut dilakukan berulang-ulang.
Fotografer yang menutup wajahnya dengan kain dan kamera tergantung di lehernya itu terus memukul dan menendang jasad korban sebelum ditarik oleh polisi.
Beberapa detik kemudian, Bania kembali berlari dan melompat menginjak dan meninju korban. Sedetik kemudian ini, tubuh Haque tampak tak bernyawa.
Di bagian akhir video berdurasi 72 menit itu, Bania dipeluk-peluk oleh seorang pria bertopi berpakaian sipil yang berada dekat lokasi kejadian bersama kerumunan polisi India.*