Senin, 3 Oktober 2005
Hidayatullah.com—Pernyataan Ustad Abubabar Baasyir ini disampaikan Senin, (3/10) tadi siang saat dikunjungi Ketua Departeman Penerangan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Fauzan Al-Anshary, saat menjenguknya di tahanan.
Kepada Fauzan, Abubakar Baasyir beralasan, jika peledakan di Bali itu dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap Amerika Serikat (AS) dan Australia, maka sesungguhnya itu tidak boleh terjadi. Karena menurutnya, Indonesia bukan wilayah konflik.
“Republik Indonesia saat ini tidak sedang dalam keadaan konflik. Kecuali bila pihak Amerika atau Australia menyerang wilayah RI, “ begitu Baasyir beralasan.
Karenanya, jika para pelaku melakukan penyerangan pengeboman dengan dimaksudkan sebagai bentuk perlawanan terhadap Amerika, itu salah alamat. Karena itu, dirinya menolak keras cara-cara pengeboman seperti yang terjadi di Bali tanggal 1 Oktober 2005 kemarin.
Manurut Ustad Abu, jika ingin melawan Amerika, yang lebih tepat adalah melakukan boikot atau pemutusan hubungan diplomatik. “Itu justru akan lebih didukung publik dibanding mengebom, “ujar Baasyir ditirukan Fauzan.
Lebih jauh, pria yang paling dibenci pemerintah Amerika dan Australia ini merasa dirinya akan dikait-kaitkan lagi dengan peledakan di Bali II itu oleh Amerika dan Australia sebagaimana yang terjadi sebelumnya.
Apalagi, PM Australia, John Howard sudah buru-buru menyebut pelaku anggota Jamaah Islamiyah (JI) yang sering ditujukan kepadanya.
Dituduh lagi
Sebagaimana diketahui, Ustad Abu kini mendekam di Lembaga Pemasyarakat Cipinang, Jakarta Timur atas tuduhan terorisme.
Pria berumur 66 tahun ini ditangkap 19 Oktober 2002, tujuh hari setelah meledaknya bom Bali di Jalan Legian di Kuta, Bali, dan di kantor Konsulat Amerika di kawasan Renon.
Menariknya, meski dituduh terlibat bom Bali, Mabes Polri menyatakan Ba’asyir resmi sebagai tersangka karena dituduh melakukan upaya pembunuhan Presiden Megawati dan melakukan pelanggaran imigrasi. Tak ada bukti terlibat bom.
Ba’asyir bahkan ditangkap dengan paksa di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Solo, saat terbaring sakit.
Menariknya, tiap kali dirinya akan bebas karena masa tahanannya habis, tiap kali itu pula ada ledakan bom. Dan saat itu polisi menuduhnya lagi hingga ia harus menjalani hukuman kembali.
Jika tak ada aral melintang, bulan Juni 2006 depan, menurut rencana, masa tahanan terhadap dirinya akan segera berakhir. Mungkinkah ia akan dijerat lagi?
“Rasanya sih akan dituduh lagi, “ujarnya ditirukan Fauzan Al-Anshary sebagaimana disampaikan kepada hidayatullah.com. (Cha)