Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Aktivis HAM: Mengejutkan, Fakta Pembantaian Rohingya Dianggap Bohong

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Juni 2015 09:38 9:38 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Juni 2015 09:38
Bagikan
Heri saat berkunjung ke Arakan, Myanmar
Bagikan

Hidayatullah.com–Mencuatnya berita dan tulisan di media online belakangan ini mengenai keraguan akan pembantaian Rohingya yang terjadi di Rakhine State, Myanmar telah mengejutkan kalangan pegiat hukum dan hak asasi manusia.

Pasalnya, berita dan tulisan tersebut memuat pernyataan dan komentar kontroversial yang seolah-olah ingin menegaskan bahwa fakta dan informasi mengenai pembantaian terhadap Rohingya di negara bagian Rakhine, yang dahulu bernama Arakan, adalah bohong belaka.

Heri Aryanto, pegiat hukum dan HAM yang pernah melakukan investigasi langsung di Sittwe, Meikhtila, dan Yangon bulan Mei 2013 mengatakan ia menerima bukti-bukti pembantaian, kesaksian-kesaksian, dan cerita mengenai pembantaian etnis Muslim Rohingya oleh penduduk mayoritas (Burmese) yang disponsori oleh pemerintah Myanmar.

Tidak hanya pembantaian, Heri juga mendapati bukti dan cerita mengenai pembatasan gerakan Rohingya di dalam wilayah Rakhine dan pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan Rohingya, baik ketika berada di Myanmar maupun pada saat melakukan investigasi di tempat terdamparnya Rohingya di Aceh dan Medan pada tahun 2013 dan 2015.

Advokat dan Koordinator Advokasi Pengungsi SNH Advocacy Center sangat menyayangkan adanya pernyataan-pernyataan yang hanya didasarkan pada alasan “tidak menemukan cerita” lalu menganggap tak ada pembantaian di Rohingya.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“PBB saja setelah melihat langsung ke lokasi konflik di Sittwe (Ibukota Rakhine State-red)  mengatakan bahwa Rohingya adalah etnis paling teraniaya di muka bumi,” tegasnya dalam rilisnya yang dikirim ke hidayatullah.com.

Heri menambahkan bahwa seharusnya kesimpulan mengenai pembantaian Rohingya diambil dari bukti-bukti yang didapatkan secara lengkap dan dari sumber terpercaya.

Soal tidak menemukan adanya mayat di mana-mana di Rakhine State dan tidak ditemukannya adanya konflik Rohingya di Yangon, tidaklah cukup untuk menyimpulkan tidak adanya pembantaian terhadap etnis Rohingya.

Heri juga mempertanyakan apakah orang-orang yang memberikan pernyataan dan komentar tersebut benar-benar telah mengetahui dan melihat langsung kondisi Rohingya ke wilayah konflik di Rakhine atau hanya berdasarkan cerita orang-orang dari luar Rakhine?

“Kalau benar-benar telah mengetahui dan menyaksikan sendiri kondisi Rohingya di Rakhine State, maka pastinya mereka akan sungkan memberikan pernyataan seperti itu,” imbuh Heri.

Sebagaimana diketahui, Senin (01/06/2015) lalu, salah satu media online memuat pernyataan pegiat LSM Kesehatan yang mengaku telah dua kali ke Rakhine dan mengatakan ia tidak menemukan mayat-mayat Rohingya yang tergeletak di mana-mana.

Bahkan ia menyalahkan media-media yang memberitakan ketidakbenaran mengenai pembantaian Rohingya di tahun 2012.  Ia juga menuduh adanya pihak ketiga yang sengaja menyebarkan berita pembantaian terhadap Rohingya.

Namun anehnya, ia kemudian mengakui adanya bukti bekas-bekas pembakaran masjid dan rumah-rumah warga di Rakhine.

Dalam pernyataan lebih lanjut, kebalikannya ia justru mengatakan bahwa ketika ia masuk ke Rakhine, ia tidak menemukan ada yang dibakar.

Menurut Heri, kedua pernyataan ini pun pada akhirnya saling bertentangan dan menimbulkan kebingungan.

Menurut Heri, hasil investigasi Human Rights Watch yang dipublikasi pada tahun 2013 dengan judul “All You Can Do is Pray, Crimes Against Humanity and Ethnic Cleansing of Rohingya Muslim in Burma’s Arakan State” menemukan fakta adanya pembantaian.

Menurutnya, seorang insan  tentunya tidak akan sanggup mengatakan bahwa pembataian terhadap Rohingya ini adalah rekayasa.

Seorang warga Rakhine membawa golok dalam konflik Muslim Rohingya dan Buddha tahun 2012
Seorang warga Rakhine membawa golok dalam konflik Muslim Rohingya dan Buddha tahun 2012

Bukti Baru

Belum lama ini,  Kantor Berita BBC melaporkan bukti dugaan penyiksaan, perkosaan dan pembunuhan yang dialami imigran Rohingya dari Myanmar.

Wartawan BBC Ian Pannel yang mengunjungi kamp yang sebelumnya dipakai pedagang manusia di Malaysia menerima laporan bahwa para migran ditahan, dipukuli dan disiksa. [Baca: Bukti Baru Penyiksaan Muslim Rohingya]

Seorang wanita mengatakan dirinya menyaksikan tahanan wanita dibawa dan diperkosa pedagang manusia. Sebagian dari mereka tidak pernah kembali. Sementara seorang migran pria yang menghuni kamp selama dua tahun, menceritakan bagaimana cabe ditaruh di matanya.

 

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengatakan etnis minoritas Muslim Rohingya di Myanmar merupakan kelompok etnis minoritas yang saat ini paling merana di dunia. Ini dikarenakan konflik kemanusiaan dan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok pengikut Budha radikal di Myanmar.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HAMmuslim RohingyamyanmarPBBpembantaianPengungsi RohingyaRohingya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Demi Kesetaraan Gender, Swedia Tambah Cuti Melahirkan untuk Ayah
Tulisan selanjutnya Wanita Muslim Menangkan Rp 938 Juta Dalam Kasus Diskriminasi Jilbab

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Berita
15 Juli 2026 20:18
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?