Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

MUI Minta Umat Islam Hormati Perbedaan Idul Fitri 1426 H

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 November 2005 02:31
Bagikan
Bagikan

 

Rabu, 2 November 2005

Hidayatullah.com–Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengimbau kepada masyarakat, terutama umat Islam, apabila terjadi perbedaan waktu Idul Fitri 1 Syawal 1426 Hijriah, agar tetap saling menghormati dan menghargai satu sama lainnya.

"Hendaknya umat Islam berpegang pada keputusan Pemerintah dalam sidang Itsbat di Departemen Agama yang akan diumumkan pada Rabu petang," kata Ketua MUI Pusat, Umar Shihab, dalam Tausiah menjelang Idul Fitri 1 Syawal 1426 Hijriah di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, perbedaan pendapat mengenai penetapan Idul Fitri 1 Syawal bisa saja terjadi, jika pada sidang Itsbat yang menggunakan metode hisab dan ru`yah tidak berhasil disepakati.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Dikatakannya, apabila pada sidang tersebut hilal (bulan baru) tidak berhasil dilihat baik di Indonesia maupun di negara-negara Asean maka berdasarkan metode ru`yah, bulan Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari, sehingga 1 Syawal jatuh pada hari Jumat (4 Nopember 2005).

"Kita berdoa, agar ada petugas yagn dapat melihat hilal, sehingga tidak ada perbedaan dengan perhitungan ahli hisab, yaitu 1 Syawal jatuh pada hari Kamis (3 Nopember 2005)," ungkapnya.

Meski demikian, Umar menyatakan, kedua pendapat tersebut sama-sama dianggap benar. "Jangan mengatakan salah satunya benar, dan salah satunya salah," tegasnya.

MUI katanya, belum bisa memutuskan fatwa, agar jatuhnya lebaran bisa seragam. "Sekarang belum memungkinkan. Tapi, di masa yang akan datang diharapkan bisa saja terjadi," katanya.

Ia sekali lagi menegaskan bahwa perbedaan pendapat penetapan 1 Syawal merupakan hal yang wajar dan tidak perlu dibesar-besarkan.

Sementara itu, Sekretaris Umum MUI, Ichwansam, menyarankan agar tidak ada kelompok-kelompok atau organisasi Islam yang melaksanakan Sholat Ied secara ekslusif dibawah "bendera" (organisasi) masing-masing.

  Muhammadiyah

Sementara itu, Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1426 Hijriyah (Hari Raya Lebaran) jatuh pada hari Kamis, 3 November 2005, berdasarkan perhitungan hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani dan dilakukan Muhammadiyah.

Maklumat tersebut disampaikan oleh Sekretaris PP Muhammadiyah Goodwill Zubir yang didampingi Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, pekan lalu.

Menurut Goodwill, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah menyatakan bahwa "ijtima" (konjungsi antara matahari-bulan dan bumi pada posisi satu garis) menjelang Syawal 1426 H terjadi pada Rabu, 2 November 2005 pukul 08:25:39 WIB.

Ketika itu, tinggi bulan pada saat matahari terbenam di Yogyakarta mencapai 3 derajat 05 menit dan 25 detik sehingga hilal (bulan baru) sudah terwujud.

"Posisi bulan di seluruh Indonesia pada saat terbenam matahari juga sudah berada di atas ufuk, sehingga Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal jatuh pada Kamis, 3 November 2005," kata Goodwill.

Mengenai penetapan 1 Syawal tersebut, Din Syamsuddin mengatakan, Muhammadiyah menggunakan pendekatan hisab hakiki dan wujudul hilal.

"Dengan perhitungan hisab hakiki, datangnya awal bulan dapat dihitung berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam hal ini ilmu falak," katanya.

Sedangkan wujudul hilal, jika sudah terjadi ijtima` maka apabila hilal (bulan baru) sudah wujud, berapa pun ketinggiannya maka sudah masuk pada bulan berikut.

Din mengatakan, memang ada pandangan lain yakni metode ru`yah dengan melihat hilal. Biasanya pada ketinggian minimal 3 derajat, hilal baru bisa dilihat. Kalau tidak bisa dilihat maka jumlah hari pada bulan itu disempurnakan menjadi 30 hari.

"Ini persoalan serius, ini soal ibadah, bukan main-main atau terkait urusan politis. Memang banyak yang menginginkan agar penetapan 1 Syawal disatukan agar tidak ada perbedaan, tetapi bagi Muhammadiyah ini belum bisa, karena ini menyangkut masalah keyakinan," kata Din.

Meski demikian, untuk tahun ini Din memperkirakan tidak akan ada perbedaan penetapan 1 Syawal dengan pemerintah atau ormas Islam lainnya.

"Tetapi, kalau ada beda pendapat, maka tidak perlu dibesar-besarkanlah, apalagi sampai menimbulkan perpecahan dan konflik. Ini kan masalah khilafiyah," katanya.

Keputusan pemerintah sendiri mengenai penetapan jatuhnya 1 Syawal 1426 Hijriyah masih menunggu ketetapan sidang Itsbat Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama Rabu, (2/11) sore ini. (ant/cha)
 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pangeran Charles Minta AS Lebih Toleran Terhadap Islam
Tulisan selanjutnya Abdullah ibn Al-Mubarak, Ulama Serba Bisa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?