Hidayatullah.com– Banyaknya santri pondok pesantren yang diberitakan terserang virus H1N1 atau flu babi, direspon cepat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Bahkan, karena jumlah santri yang terserang penyakit dari Meksiko itu terus bertambah, Jumat, 31 Juli PBNU menggelar rapat dengan agenda khusus membahas masalah tersebut.
Rapat yang digelar di kantor PBNU ini melibatkan pengurus dan dokter dari Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPKNU) serta Community-Based Disaster Risk Management (CBDRM). Setelah rapat koordinasi, mereka langsung datang ke semua pondok pesantren di lingkungan NU yang terserang wabah H1N1.
Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan LPKNU dan CBDRM untuk segera mengambil langkah cepat mengatasi dan mencegah semakin meluasnya H1N1 di pondok pesantren. “Sebagai Ketua Umum PBNU saya telah menginstruksikan kepada LPK Pusat untuk segera mengambil langkah konkret menangani banyaknya santri pesantren yang terkena flu H1N1,” katanya saat dihubungi Duta Masyarakat, Kamis kemarin.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam Malang dan Depok ini menjelaskan, tim dokter LPKNU akan mendatangi pondok pesantren yang terserang virus tersebut. “Insya Allah, setelah koordinasi akan terjun ke lapangan,” kata mantan Ketua PWNU Jatim ini. Agar langkah tim dokter dari LPKNU berjalan cepat, lanjutnya, PBNU meminta LPKNU dan CBDRM membentuk beberapa tim.
Selain itu PBNU juga menginstruksikan tim dokter LPKNU dan CBDRM untuk berkoordinasi dengan rumah sakit yang ditempati santri pasien H1N1. Koordinator CBDRM NU yang juga aktivis LPKNU, Avianto Muhtadi saat dihubungi Duta mengatakan, pihaknya membuat Posko Komando Penanggulangan Pandemi Influenza di kantor PBNU. Posko tersebut menerima laporan dari daerah soal wabah H1N1.
Menurutnya, LPKNU dan CBDRM akan menerjunkan puluhan dokter yang telah berpengalaman, dengan dipimpin langsung oleh Ketua LPKNU dan Wakilnya, dr Syahrizal Syarif dan Bina Suhendra.
Dikatakan Avin, soal H1N1 pihaknya telah melakukan pertemuan dengan badan kesehatan dunia, World Health Organization/WHO beberapa waktu lalu. Salah satu hasilnya, peringatan bagi masyarakat bahwa bulan Juli dan Agustus terjadi kenaikan pasien flu babi. “Itu disebabkan cuaca panas di Indonesia dan dampak pemanasan global. Jadi penyebaran (flu babi) makin cepat. Itu hasil rapat kami dengan WHO,” katanya.
Sementara itu keputusan tim dokter rumah sakit (RS) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi maupun kabupaten/kota di Jatim yang menyatakan puluhan santri dari berbagai pondok pesantren suspect flu babi, dianggap PWNU Jatim terlalu dini. Selain merugikan keberadaan ponpes, keputusan tersebut juga mulai menjadi kekhawatiran orangtua santri maupun warga di sekitar ponpes.
Pasalnya, keputusaan tim dokter dan Dinkes yang kini tersebar di berbagai media, mulai membawa image kalau ponpes sudah menjadi sarang penyebaran H1N1. Padahal, dari kesekian santri yang kini dirawat di RS tidak ada satu pun yang dinyatakan positif mengidap H1N1. [ant/nu/hidayatullah.com]