Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Hanya Ada di Indonesia, Mahasiswa Bakar Kampus Sendiri

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Juli 2010 12:56
Bagikan
Bagikan


Hidayatullah.com–Hanya terjadi di Indonesia calon intelektual bangsa atau mahasiswa melakukan aksi bentrok fisik atau tawuran yang mengakibatkan mereka membakar dan merusak kampusnya sendiri. Ironisnya aksi brutal mahasiwa ini kemudian ditiru oleh siswa SMP dan SMA.

Akibatnya, aksi kekerasan ini kembali terulang di kampung mereka. Perang antarkampung pun kerap terjadi. Itu semua membuktikan karakter, budi pekerti, akhlak mulia dan nilai-nilai luhur manusia Indonesia semakin terdegradasi.

Hal inilah yang mendorong Direktorat Pendidikan Masyarakat menilai perlu segera berbuat sesuatu dalam menyikapi fenomena ini. Lewat jalur pendidikan nonformal dan informal tentunya pembentukan karakter bangsa perlu segera direvitalisasi.

 

Pernyataan ini disampaikan Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal Kemendiknas, Hamid Muhammad, PhD dalam “Lokakarya Pendidikan Masyarakat Terintegrasi Dengan Aksara Perdamaian” di Medan, kemarin.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Sejumlah pembicara dalam acara tersebut antara lain, Wakil Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta, Prof Dr Amsal Bakhtiar, Ketua Perwalian Umat Buddha Indonesia Sumatera Utara, Dr Indra Wahidin, Rektor Universitas Nomensen Medan, Pdt Dr Martonggo Sitinjak, Kepala Litbang Departemen Hukum dan HAM, Prof Dr Hafid Abbas, Peneliti LIPI, Siti Juhro, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait dan Budayawan, Prof Dr Robert Sibarni.

Kegiatan ini dilakukan di tiga wilayah yaitu di Medan untuk wilayah Barat, Mataram untuk wilayah Tengah, dan Ambon untuk wilayah Timur.

Wakil Rektor UIN Jakarta Prof Dr Amsal Bakhtiar mengatakan, konflik horizontal yang terjadi di tengah masyarakat sekarang bergeser dari antarumat beragama menjadi konflik antarpendukung calon kepala daerah, sehingga isu atau persolan konflik agama tidak banyak muncul di permukaan.

Bergesernya persoalan agama ke politik lokal merupakan salah satu faktor kenapa konflik antarumat beragama cenderung turun dibandingkan dengan konflik-konflik politik lokal, seperti konflik antarpendukung gubernur dan bupati/walikota. Akibatnya, kecenderungan konflik beralih dari masalah gesekan antarumat beragama menjadi gesekan antarpendukung politik.

Dalam beberapa kali pilkada, lanjutnya, kita saksikan betapa banyak korban, baik orang maupun bangunan hancur akibat ulah para pendukung yang kalah. Persoalan inilah yang perlu juga dikaji secara mendalam tentang faktor-faktor terjadinya konflik antarpendukung dalam pemilihan kepala daerah dan bergesernya budaya konflik dari antarumat beragama menjadi antarpendukung calon kepala daerah. Kalau melihat realitas di atas, di mana sebenarnya posisi umat beragama. Umat beragama ikut dalam ritual keagamaan dan juga ikut dalam ritual politik.

Untuk saat ini, terlihat jelas bahwa umat beragama menjadi sasaran empuk bagi para politikus. Para politikus memanfaatkan umat beragama untuk mendapat dukungan karena umat beragama lebih solid dan mudah digiring, apalagi yang digiring adalah para tokoh agama, tukasnya.

Idealnya umat beragama, terutama para pemuka agama memiliki prinsip tersendiri dan konsisten membina moral umat dan tidak tergoda oleh rayuan dan kemilaunya kekuasaan. Kalau prinsip ini dipegang teguh, kehidupan politik akan seimbang karena ada daya penyeimbang dari masyarakat sipil yang berpengaruh untuk melakukan koreksi pada hal-hal yang menyimpang dari norma agama dan moral.

Pentingnya toleransi

Hal senada peneliti LIPI Siti Zuhro, PhD mengatakan, tujuan dari toleransi antarumat beragama tidak saja perdamaian, tetapi terwujudnya masyarakat sipil yang kuat, bangsa yang kokoh dan bersatu, dan rasa kebanggaan menjadi bangsa Indonesia yang plural, tapi kuat. Kalau bangsa Jepang atau Korea bersatu, sudah biasa karena ras, budaya dan agama mereka tidak begitu beragam. Namun, kalau Indonesia mampu seperti mereka, maju, bersatu, dan bangga menjadi bangsa Indonesia, maka itu hal yang luar biasa.

Ironisnya, lanjut Siti, keragaman yang menjadi spirit Bhinneka Tunggal Ika cenderung diabaikan, padahal Indonesia yang berbentuk archipelago dengan keunikannya ini sangat memerlukan nilai-nilai toleransi, menerima perbedaan, baik agama maupun suku atau etnis (SARA).

Berkurangnya nilai-nilai toleransi tersebut telah menimbulkan kekerasan atau kerusuhan akhir-akhir ini, baik dalam pilkada maupun dalam pemekaran daerah. Partai politik sebagai pilar demokrasi belum menjalankan tiga tupoksinya yaitu melakukan pendidikan politik, mengartikulasikan kepentingan masyarakat, dan melakukan integrasi politik. [pel/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya KA Metro Mekah Akhirnya Dioperasikan
Tulisan selanjutnya Pemuda Arab ke Gaza Teliti Lingkungan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?