Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Dampak CAFTA, Impor Makanan Ilegal Bebas

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Agustus 2010 15:13
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Impor makanan dan minuman olahan, termasuk kosmetik dan obat-obatan, melonjak rata-rata hingga 70 persen selama semester I 2010.

Bahkan, dari produk-produk impor yang ditemukan di pasaran tersebut, termasuk juga produk ilegal, karena tidak memenuhi peraturan perdagangan dan ketentuan standardisasi yang ditetapkan pemerintah.

Sebut saja produk makanan dan minuman serta obat dan kosmetik impor yang tidak menggunakan label bahasa dan mencantumkan komposisi bahan baku. Belum lagi masalah pemenuhan standar mutu dan kualitas yang juga tidak jelas ukurannya, karena juga tidak terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, lonjakan impor terbanyak terjadi untuk produk biskuit yang mencapai hingga 1.100 persen, terutama dari China, Malaysia, Korea Selatan, Thailand, dan bahkan Rusia.

“Makanan dan minuman impor naik 70 persen selama 6 bulan pertama,” katanya di Jakarta, Senin (23/8).

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Menurut dia, kenaikan impor makanan dan minuman serta produk konsumsi lainnya didorong oleh pelaksanaan perdagangan bebas dengan berbagai negara, termasuk dengan China (CAFTA). Selain itu, kenaikan impor pun terjadi terhadap produk jamu impor hingga 200 persen, produk sampo 25 persen, dan produk-produk konsumsi lainnya.

“Kenaikan impor ini hanya mencakup produk legal. Jadi belum dihitung dari impor ilegal yang diperkirakan lebih besar. Penetapan 5 pelabuhan, ternyata hanya hangat-hangat tahi ayam. Semuanya masuk,” ujar Sofjan.

Sofjan menuturkan, lonjakan produk makanan-minuman impor bukan hanya merugikan industri dalam negeri. Namun selain itu membahayakan masyarakat karena tidak jarang produk-produk tersebut belum berbahasa Indonesia.

“Kalau industri makanan minuman saja tak terselamatkan, saya percaya nasib industri lain juga tidak terselamatkan,” katanya.

Untuk itu, dia berharap pemerintah segera bertindak cepat, terutama dalam mengatasi masalah ini. Wajib label berbahasa Indonesia bagi produk makanan minuman menjadi hal yang penting.

Bahkan dengan tegas Sofjan menyentil perilaku BPOM, yang menurutnya, masih melakukan pengumuman saat akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ataupun operasi semacamnya.

“BPOM kalau operasi satu minggu sebelumnya dikasih tahu dulu, mau menangkap maling kok dikasih tahu,” ucapnya.

BPOM, menurut dia, seharusnya merahasiakan rencana setiap operasinya agar tidak bocor ke publik. Sebab, masalah wajib label berbahasa Indonesia bagi produk pangan dan pengawasan ketat, sebenarnya sudah disampaikan ke level menteri melalui pendekatan personal, termasuk dengan Menteri Perdagangan, namun masalah koordinasi menjadi kendala. Karena itu, dia mengingatkan agar koordinasi instansi terkait dapat mengatasi kendala yang selama ini menjadi keluhan para pelaku usaha di dalam negeri.

“Ini sesuai dengan keinginan bersama yang menginginkan dunia usaha bisa menjadi raja di negeri sendiri, di samping adanya perlindungan bagi konsumen yang lebih besar lagi. Jadi, bagaimana konsumen bisa mendapatkan manfaat dari berbagai produk impor yang beredar di pasar dalam negeri jika tidak memahami produk yang dibutuhkannya karena produk impor tidak memberikan informasi yang cukup,” ucapnya.

Sementara itu, Franky Sibarani, perwakilan Apindo lainnya, mengatakan, temuan melonjaknya produk impor dan tidak berbahasa Indonesia merupakan temuan pengembangan dari lima kota sebelumnya. Beberapa kota lainnya yang juga ditemukan lonjakan produk impor antara lain Yogyakarta, Semarang, Pontianak, Balikpapan, Malang, dan Banten. “Pelanggaran-pelanggaran sebenarnya jauh lebih besar dari temuan kita,” tutur dia.

Tren membajirnya produk impor juga dikeluhkan pengusaha dalam negeri lainnya. Misalnya, produk impor kosmetik dan jamu yang mudah masuk ke pasar dalam negeri, sehingga makin mengkhawatirkan. Sementara produk ekspor kosmetik dan jamu Indonesia ke negara-negara lain justru mengalami perlakuan yang ketat, termasuk dihadang dengan nontarif barrier.

Menurut Ketua Bidang Industri Perdagangan GP Jamu dan Ketua Perkosmi Putri K Wardani, tren semacam ini setidaknya terjadi semenjak adanya perdagangan bebas China-ASEAN (CAFTA), khususnya ketika produk jamu dan kosmetik sudah mengalami penghapusan tarif 0 persen. Berbeda dengan sebelum dimulai kesepakatan CAFTA, masing-masing negara tujuan ekspor justru mengetatkan diri. Antara lain, pendaftaran di negara tujuan ekspor lebih lama, dengan sendirinya ini sebagai nontarif barrier.

Namun kondisi yang berlawanan terjadi di Tanah Air. Pemerintah Indonesia justru sangat terbuka terhadap barang-barang impor seperti jamu maupun kosmetik. Dia mencontohkan, masih banyaknya jamu dan kosmetik impor tanpa label bahasa Indonesia akan menjadi ancaman bagi konsumen karena konsumen tidak tahu isi produk yang mereka pakai. Misalnya label, bahasa asing akan menyulitkan konsumen untuk mengetahui produk kosmetik pemutih yang mengandung zat berbahaya. “Di lapangan banyak produk jamu dan kosmetik impor yang deras masuk tak berlabel bahasa Indonesia,” katanya.

Hal ini tentunya berimbas terhadap nasib industri jamu dan kosmetik lokal. Ia mencatat pada triwulan I-2010 industri jamu turun 20 persen dan kosmetik stagnan. Sementara hingga semester I-2010, tercatat kenaikan produk impor jamu sampai 200 persen.

Putri menambahkan, pasar kosmetik dalam negeri per tahunnya mencapai Rp 35 triliun, yakni 20 persen diisi oleh produk impor, sedangkan sisanya produk lokal. “Tapi yang 20 persen itu legal, belum yang ilegalnya,” tutur Putri. [suk/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Wilayatul Hisbah Terkendala Dana Pantau Syariat Islam
Tulisan selanjutnya Palestina Kutuk Rencana Israel Bongkar Dua Masjid

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?