Hidayatullah.com–Majelis Ulam Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haram terhadap terorisme. Seperti tertuang dalam keputusan fatwa MUI No. 3 tahun 2003 tentang terorisme. MUI dalam fatwa tersebut menjelaskan, jihad bukanlah terorisme dan terorisme bukanlah jihad. Karena itu, MUI mendukung usaha pemerintah dalam mencegah tindakan terorisme. Kendati begitu, MUI juga menolak keras adanya stigmatisasi Islam dengan terorisme. Stigmatisasi Islam dengan terorisme, tegas MUI setali tiga uang dengan bentuk terorisme yang ditujukan pada umat Islam. “Opini yang dibangun mengaitkan Islam dengan terorisme harus diubah. Pendiskriditan ini merugikan umat Islam dan perlu diwaspadai sebagai bentuk gerakan anti Islam,” ujar Ketua MUI Jawa Timur KH. Abdusshomad Buchori dalam Halaqah Penanggulangan Terorisme di Masjid Al-Akbar Surabaya (28/11). Selain MUI Jatim, hadir sebagai pembicara Kapolda Jatim Irjen Pol Badrodin Haiti, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyad Mbai. Acara tersebut dihadiri sekitar 40 organisasi massa (Ormas) Islam di Jatim.
Lebih lanjut, MUI juga menolak keras upaya melebarkan isu terorisme dengan menyudutkan lembaga pendidikan Islam, pesantren. Hal itu dipertegas Kapolda Jatim Irjen Pol Badrodin Haiti. Menurutnya, pandangan radikalisme tidak bisa ditandai dengan jenggot, celana cingkrang atau atribut keislaman lainnya. Pandangan radikalisme bisa dilihat dari dialog. “Tidak bisa ditandai seperti itu, tapi bisa dilihat dari dialog mereka, keras atau tidak,” ujarnya. Badrodin Haiti menambahkan, orang yang memiliki pandanga keras juga ada dua; ada yang melakukan kekerasan dan ada yang tidak. Sementara, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyad Mbai mengatakan, terorisme terjadi bukan soal agama, tapi karena pemahaman sejarah dan agama yang tidak benar. Pernyataan tersebut dengan tegas diprotes Fajar Kurniawan, perwakilan HTI Jatim. Menurut Fajar, terorisme tidak ada kaitannya dengan agama, tapi kenapa dikatakan tujuan para teroris adalah menegakkan syariat Islam.
“Jangan-jangan gerakan ini sengaja untuk membendung kelompok Islam,” tegasnya. Acara tersebut berlangsung seru, panas dan alot. Para peserta menyampaikan pandangan, tapi karena waktu terbatas, tidak semua dapat waktu. Sejumlah pemahman, seperti makna thagut, khilafah dan cara penegakan syariat Islam juga belum ada titik temu, masih debatable. Karena itu, MUI berencana akan melakukan diskusi ulang membahas masalah tersebut. [ans/hidayatullah.com]