Hidayatullah.com — Tabloid Suara Islam (SI) menyatakan sudah memenuhi prosedur kode etik jurnalistik terkait terkait pemberitaan soal apartemen mewah milik Syafii. Pihak Syafii merasa tidak pernah dikonfirmasi soal pemberitaan itu.
“Justru kami merasa diremehkan, tidak dianggap sama sekali. Kami sudah utus wartawan yang sudah kenal dekat sama beliau untuk konfirmasi tapi tak pernah ditanggapi,” kata Legal Officer juga pengacara Tabloid Suara Islam Luthfi Hakim, kepada Hidayatullah.com, Kamis (9/12).
Ketika hendak dikonfirmasi, Syafii menolak untuk diwawancarai. Padahal lebih dua bulan permintaan wawancara telah diajukan. Suara Islam menegaskan, Syafii telah melecehkan profesi wartawan.
\”Sebagai wartawan, Anda pasti merasa dilecehkan jika tidak dianggap sama sekali seperti itu. Narasumber seharusnya bisa menghargai profesi wartawan,\” kata Luthfi.
Disebutkan Luthfi, pihaknya sudah melakukan konfirmasi sebanyak 7 lebih selama 2 bulan tapi tidak pernah ditanggapi oleh Maarif. Yang terkesan sangat melecehkan, lanjut Hakim, tawaran wawancara Suara Islam malah ditanggapi oleh orang lain yang diperintah Maarif.
“Makanya kami heran kok kita disomasi, padahal ada hak jawab. Pertanyaannya, kenapa beliau tidak mau menjawab konformasi kami. Itu masalahnya,\” terang Luthfi.
Sebagai guru bangsa, terang Luthfi, semestinya Maarif tidak bersikap seperti itu. “Seharusnya beliau mau menjawab,” katanya.
Menurut Luthfi, sumber yang disebut dalam pemberitaan itu sangat kuat dan bisa dipertanggungjawabkan. Luthf mengaku heran kenapa Maarif malah menuyuruh orang lain untuk menjawab pertanyaan wartawan dari Suara Islam.
“Secara kode etik, apalagi yang belum kami lakukan. Atau apakah kami harus bungkam melihat keganjilan yang ada,” imbuh dia.
Maarif Membantah
Sementara itu, Ahmad Syafiie Maarif membantah dirinya telah menerima sebuah apartemen mewah dari Aburizal Bakrie senilai Rp2 Miliar itu.
“Berita itu fitnah. Berita tersebut tidak benar dan tidak bertanggung jawab,” ujar pengacara Syafiie, Todung Mulya Lubis, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (8/12).
Menurut Todung, berita itu tidak pernah dikonfirmasikan kepada Buya Syafii, panggilan Syafii Maarif. Menurutnya, pemberitaan ini sebagai bentuk pencemaran nama baik dan pembunuhan karakter terhadap Buya sebagai guru bangsa dan pejuang kemajemukan bangsa. [ain/hidayatullah.com]