Hidayatullah.com—UU Intelijen Negara yang telah disahkan DPR melalui rapat paripurna dinilai masih meninggalkan banyak permasalahan dan persoalan.
Selain isu krusial dalam UU Intelijen Negara yang sering dibahas masayakat seperti soal penyadapan, pemeriksaan aliran dana dan penggalian terhadap informasi, kelembagaan, kode etik, pengawasan, masa retensi, ada pula masalah kepentingan.
Menurut Direktur Executive Center for Democracy and Social Justice Studies (CedSos), Umar Abduh, UU Intelijen bisa berpotensi menjadi alat “penjajah” asing untuk memanfaatkan Indonesia.
Menurut Abduh, UU Intelijen hanya diperlukan jika negara dalam keadaan kuat (mandiri dan berdaulat, red). Sementara saat ini, keadaanya justru terbalik.
Di sisi lain, lembaga intelijen saat ini dikendalikan kepala negara (Presiden). Namanya saja intelijen negara, seharusnya, posisinya sejajar dengan presiden dan berfungsi sebagai alat untuk menghadapi ancaman asing dan pihak luar.
“Tidak seperti sekarang ini, di mana negeri kita tidak kuat dan di bawah kendali asing,” ujar pria yang pernah dipenjara selama 11,5 tahun di era Soeharto karena menolak asas tunggal Pancasila ini kepada hidayatullah.com, Kamis (13/10/2011).
Menurutnya, jika seperti ini kondisinya, dikhawatirkan, UU ini justru menjadi alat asing. Ia juga menyebutkan beberapa fakta. Di antaranya ekonomi, perbankan dan semua sumber daya alam Indonesia yang masih dikuasai asing dan Indonesia tak berdaya.
Nah bukan tidak mungkin, kelak lembaga intelejen justru saling berkolaborasi. Menurutnya, ada tiga intelijen yang bermain di Indonesia. Pertama, intelejen yang memiliki misi untuk mengamankan agenda asing. Kedua, intelijen yang hanya mengamankan kekuasaan. Ketiga, intelejen yang konsisten menjaga keutuhan negara. Sedang intel yang ‘mengamankan’ agenda asing dan ‘mengamankan’ penguasa, ia bisa saling berkolaborasi. Apalagi pasca 11 September ini, banyak Negara dikendalikan Amerika dalam kampanye terorisme.
“Jika kondisinya seperti ini, bisa-bisa hanya menjadi alat asing. Apalagi yang sekarang bernafsu untuk membungkam umat Islam, “ tambahnya.*