Hidayatullah.com—Umumnya transformasi peradaban dilakukan oleh para ilmuwan. Oleh sebab itu kebangkitannya harus dimulai melalui pendidikan. Persoalannya, pendidikan sekarang ini telah kehilangan ruhnya karena diakibatkan ilmu yang telah rusak.
Pernyataan tersebut disampaikan Dr. Khalif Muammar, dosen Centre for Advanced Islamic Studies on Islam, Science and Civilization (CASIS) Malaysia dalam “Daurah Nasional Pendidikan Islam” yang diadakan oleh Institut Pemikiran dan Pembangunan Insan (PIMPIN) Bandung belum lama ini.
“Tantangan kita adalah peradaban Barat. Perlu disiapkan apa-apa yang kita gunakan untuk bangkit dan bagaimana jalan keluarnya. Maka, yang harus diselesaikan umat ada tigal; Pertama, ada kesalahan kita memahmi ilmu. Kedua, loss adab (hilangan adab) dan Ketiga, membangkitkan pemimpin,” ujar Dr. Khalif.
Presentasi Khalif pada “Daurah Pendidikan Islam” tersebut mampu menggugah mahasiswa yang mengikuti daurah selama dua hari tersebut. Bagi kebanyakan peserta, materi yang disampaikan seperti worldview Islam dan epistemologi merupakan hal baru yang banyak mencerahkan kalangan mahasiswa.
Doktor alumni ISTAC Malaysia tersebut menegaskan ilmu itu harusnya membangkitkan umat manusia. Jika ilmu tidak mampu membangkitkan, berarti ada persoalan pada jiwanya.
“Dalam belajar, jiwa harus siap menerima ilmu,” ujarnya. Menurutnya, ada sebab kenapa jiwa tidak siap menerima ilmu. Yaitu karena jiwa yang kotor atau ilmu yang merasuk ke jiwa itu telah rusak. Ilmu yang rusak akan menciptakan ilmuwan yang rusak pula. Nah, inilah yang banyak kita dapati saat ini.
Agar tidak melahirkan ilmuwan dan ilmu yang rusak, maka solusinya dengan melahirkan pendidikan yang beradab. Yaitu konsep ilmu yang mengaca pada para Nabi dan Rasul.
“Nabi dan Rasul adalah pendidik ulung yang mengubah manusia mentransformasikan menjadi masyarakat yang tamaddun dan mempimpin dunia,” tambahnya.
Khalif juga mengingatkan calon ilmuwan jangan sampai lupa dengan ilmu fardlu ‘ain. (ilmu-ilmu yang wajib dipelajari dan tidak boleh diganti orang lain, dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,red).
“Jangan belajar ilmu fardu ‘ain itu hanya belajar shalat saja,” tegasnya.
Ia beralasan, ilmu fardlu ‘ain itu tidak pernah selesai, ia akan terus bertambah seiring bertambahnya pengetahuan. Kondisi saat ini diperparah karena banyaknya ilmuwan kita hanya konsentrasi pada ilmu fardlu kifayah yang justru banyak dihegemoni oleh Barat.
Lebih jauh, ia berharap agar pendidikan Islam saat ini lebih beradab, yaitu yang berasaskan i’tiqad Islam. Ia juga berharap, agar ilmuwan yang beradab nantinya tidak disia-siakan oleh Negara. Sebab merekalah pada akhirnya yang ikut mengadabkan dan membangkitan bangsa.
“Negara jangan gagal memanfaatkan ilmuwan,” ujarnya mengakhiri materi.*/Kholili
Foto: utm.my