Hidayatullah.com—Indonesia adalah negara besar, tapi saat ini menjadi begitu ruwet. Tak hanya tatanannya yang ruwet, masyarakatnya juga ruwet. Pernyataan ini disampaikan mantan Ketua PBNU, KH Hasyim Muzadi dalam tausiyah pada acara Tabligh Akbar memperingati Maulid Nabi di MTs Darul Hikmah, Pamulang, Sabtu (25/02/2012) kemarin.
“Bukan hanya negaranya yang ruwet tapi tatanannya ruwet, masyarakatnya ruwet akhirnya terjadilah premanisme di anmana-mana,” ungkapnya pada jama’ah yang hadir.
Ia juga mengungkapkan bahwa kita memerlukan ilmu untuk membenahi negara yang ruwet ini.
“Sekarang ini, orang mencari ilmu atau karena hanya ingin mencari status? Jika hanya mencari status, dari awal niatnya sudah salah. Kalau ilmu agamanya ditambah dengan hidayah dari Allah maka dia akan menjadi pejuang agama tapi kalau dia punya ilmu agama tidak ditambah hidayah dari Allah, maka dia akan menjadi penjual agama.”
Ia mencontohkan, di Jawa Timur, ada seorang Bupati yang mencalonkan diri tetapi ternyata ijazah sarjananya palsu.
Hilangnya sifat Shiddiq, Fathonah, Amanah
Pengasuh pondok pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur ini juga menyindir partai dengan jargon “Katakan tidak pada korupsi.” Namun justru masih juga korupsi.
Karena itu, menurutnya, ada ungkapan bijak Imam al-Ghazali yang mengatakan, satukanlah perkataan dengan perbuatanmu maka akan dekat pertolongan Allah.
Pada jama’ah yang hadir ia mengungkapkan keprihatinannya di mana sekarang ini banyak sarjana hukum yang kena hukuman dan masuk penjara, ahli keamanan perlu diamankan, para pendidik justru perlu dididik lagi, para politikus yang telah kehilangan sifat siddiq, fathonah dan amanah-nya.
Saat memberikan kata penutup ia berpesan agar kita selalu berusaha menyesuaikan diri dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.*/Sarah