oleh: M. Anwar Djaelani
“BOCORAN Kunci Unas Bersliweran”. Itu berita utama Jawa Pos (17/04/2012). Di hari yang sama, Republika menurunkan headline “Isu Kecurangan Marak” dan dengan sub-judul “Pengamanan UN dinilai berlebihan, seperti mau perang”.
Unas dan UN pada paragraf pertama di atas adalah kependekan dari Ujian Nasional yaitu ujian akhir yang harus dilalui setiap murid dengan sebaik-baiknya agar dapat dinyatakan lulus dari sebuah jenjang pendidikan, baik dasar maupun menengah.
Sayang, nyaris setiap tahun berita tentang pelaksanaan unas yang dipenuhi berbagai aksi kecurangan selalu terulang. Di tahun 2011, misalnya, negeri ini dihebohkan oleh apa yang disebut sebagai “contek massal”. Saat itu, di salah sebuah SD di Surabaya, atas ‘skenario’ yang dirancang gurunya sendiri, seorang murid yang dikenal pandai di sekolah itu diminta membocorkan kunci jawaban ke teman-teman sekelasnya.
Sangat Mengerikan
Di unas tahun 2012 berbagai kasus kecurangan kembali terungkap. Modus yang paling banyak ditemukan adalah kunci jawaban yang beredar dari ponsel ke ponsel lewat SMS atau pesan pendek. Di Kediri, beredar kunci jawaban lewat SMS. Di kota ini, murid bisa membawa ponsel ke ruang unas, meletakkan di atas mejanya dan –astaghfirullah- bebas membuka-buka kunci jawaban yang ada di dalamnya. Di Jombang SMS berisi kunci jawaban juga beredar dan diyakini 66 persen benar. Di kota ini pun terjadi jual-beli soal dengan harga Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Di Kota Mataram beberapa murid menyalin kunci jawaban yang mereka peroleh lewat SMS ke kertas kecil. Siapa pengirim SMS? Di Sidoarjo, pengirim SMS yang berisi jawaban itu adalah seorang guru (Jawa Pos, 17/4/2012).
Rasanya, keprihatinan kita sudah di puncak yang tertinggi. Lihatlah proses sebelum hari pelaksanaan unas yang tampak sudah diusahakan sangat ketat! “Mantapkan Hati, Jangan Percaya Bocoran”. Itu judul berita utama Jawa Pos 16/4/2012 dan disertai foto besar yang menggambarkan seorang polisi mengawasi seorang pekerja yang sedang memeriksa kardus-kardus berisi soal-soal unas bertuliskan Dokumen Negara untuk didistribusikan di Kabupaten Serang-Banten. Di edisi yang sama tapi di halaman berbeda, koran tersebut juga menurunkan feature berupa “Cerita dari Para Pencetak Soal Unas yang Enam Minggu Dikarantina” di salah sebuah percetakan di Surabaya. Sebelum bekerja mereka disumpah agar tak membocorkan soal-soal yang dicetaknya. Bagi sebagian orang, kisah mereka itu cukup ‘heroik’ antara lain karena pekerjaan tersebut mengharuskannya berpisah dengan keluarganya selama 40 hari. Selama itu pula, mereka tak boleh berkomunikasi sama sekali dengan dunia luar.
Paragraf di atas menunjukkan bahwa sejak awal proses pembuatan soal unas sudah dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian untuk menjaga kemungkinan bocor. Malah, unas yang dulunya cukup diurusi guru dan petugas kependidikan lainnya, sekarang -kecuali memerlukan polisi- ternyata di sejumlah sekolah juga menyediakan kamera pengintai untuk memastikan ada atau tiadanya kecurangan. Lihatlah, Republika, (17/04/2012) yang menulis berita/ilustrasi seperti di bawah ini:
Ada polisi yang menjaga gudang berisi soal-soal, polisi mengantar soal ke tujuan, dan polisi menyamar di lingkungan sekolah. Di samping itu, ada sekolah yang sampai menggunakan kamera pengintai untuk berperan ‘mengawasi’ peserta unas. Misal, di SMAN I Cimahi ada 16 kamera pengintai. Sementara, di SMAN I Bogor, ada 40 kamera pengintai.
Membaca itu semua, kita tertunduk dan dengan lirih berkesaksian: mengerikan! Betapa besarnya ‘kekuatan’ yang harus dikerahkan untuk menegakkan kejujuran. Hasilnya? Mengecewakan! Membaca itu semua, tampak bahwa sebagian dari kita, terjebak ke dalam sikap “menghalalkan segala cara”. Agar lulus, murid berbuat curang. Supaya mendapat penilaian baik (yaitu siswanya lulus semua), guru membiarkan muridnya mencontek. Bacalah Metropolis-Jawa Pos (18/04/2012): “SMS Jawaban Unas Meluas – Pengawasan Longgar, Siswa Leluasa Menyontek”.
Memang mencemaskan! Ketidakjujuran berlangsung di berbagai aspek kehidupan: sosial, politik, dan –astaghfirullah- juga di pendidikan. Sekali lagi, lihatlah kasus contek massal di salah sebuah SD di Surabaya pada unas 2011 dan pada berbagai kecurangan pada unas tahun 2012.
Maka, ada benarnya saat beberapa waktu yang lalu Opick merekam keadaan di sekeliling kita lewat lagu berjudul ‘Astaghfirullah’, yang di antara syairnya: Kubuka jendela pagi di udara yang letih/ Deru geram nyanyian jaman/ Bersama berjuta wajah kuarungi mimpi hari/ Halalkan segala cara untuk hidup ini.
Jujur Menyelamatkan
Kapanpun, kita diminta selalu bertaqwa. “Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertaqwa“ (QS Al-Baqarah [2] : 194). Taqwa adalah sikap untuk selalu berhati-hati, yaitu dengan cara selalu mematuhi semua perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Jujur adalah satu di antara sifat utama orang bertaqwa. Sayang, kini kejujuran tampak dicampakkan oleh banyak kalangan. Kini beredar ungkapan-ungkapan sesat dan menyesatkan. Misal, “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal”, ”Si jujur akan terbujur”, ”Jika ‘lurus’ akan kurus”, atau “Siapa ikhlas akan tergilas”.
Mari junjung kejujuran, sebab itu bagian dari taqwa. Allah suka yang jujur dan menjanjikan balasan berlimpah. Kejujuran mendatangkan ketenangan. Sebaliknya, kecurangan mendatangkan kegelisahan.
Kejujuran, ciri paling menonjol dari kemuliaan akhlak seseorang. “Hendaklah kamu selalu benar (jujur). Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar (jujur) dan selalu memilih kebenaran (kejujuran) dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta / pembohong (HR Bukhari).
Jujur tanda kesempurnaan iman. Mari pelihara dengan sebaik-baiknya sifat jujur itu, agar selamat dunia dan akhirat. Lawan virus ketidakjujuran!*
Penulis adalah peneliti di InPAS dan dosen STAIL Pesantren Hidayatullah Surabaya