Hidayatullah.com— Indonesia saat ini harus diakui sedang berada di tepi jurang kehancuran. Indikatornya antara lain kualitas hidup manusia (Human Development Index), peringkat korupsi, peringkat akses pornografi, narkoba, HIV/AIDS, dan sebagainya. Oleh karena itu, gerakan dakwah harus terus digemakan untuk menyelamatkannya.
Demikian pernyataan Ustad Syuhada Bahri, Ketua Dewan Da’wah Islam Indonesia dalam “Dialog Dakwah di Gedung Menara Dakwah Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat bertajuk Selamatkan Indonesia dengan Dakwah – Sejuta Umat Tak Cukup Satu Da’i’’.
Acara ini dihadiri sekitar 50 peserta. Di antaranya adalah M Nasir Tajang (Direktur Yayasan Baitul Mal BRI), Eko Apriyanto (ZIS Indosat), Adityawarman Thaha (Keluarga Besar Alumni PII) Dessylia Puspita dan Feti Kusmiati (PMI Pusat), Abdurrahman Gayo (Masjid Raya Al Azhar), Prawoto (DKM Sarinah), Sukarno (DKM Masjid Tanah Abang), Sulaiman (DKM Masjid Baiturahman Ancol), H Sarbani (DKM Masjid Raya Puloasem) dan Masjudi (YAPI Al Azhar).
Dari kalangan pengusaha hadir antara lain Saud El Hujjaj (Ketua Harian Indonesian Islamic Business Forum), Asep Jembar (Greenlightcool), Haji Nuzli Arismal (pengusaha Tanah Abang), Widarto SR, Moh Iqbal, Dody Wahyudi (Bank Syariah Mandiri), Tatang TS, Ade Kusuma (PT Arsen), Civic Jati P (Syafaat Marcom), dan Achmadin (Hotel Sofyan).
Selaku tuan rumah, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia KH Syuhada Bahri didampingi Direktur Eksekutif LAZIS Dewan Da’wah Ade Salamun.
Menurut Syuhada, satu-satunya gerakan yang mampu mencegah Indonesia dari kehancuran adalah gerakan dakwah.
‘’Hanya dalam waktu 10 tahun di Makah dan 13 tahun di Madinah, Nabi Muhammad sukses mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat beradab melalui gerakan dakwah,’’ ujar Syuhada mencontohkan.
Syuhada juga mengajak peserta dialog untuk memikul bersama pelaksanaan program-program Dewan Da’wah.
‘’Dewan Da’wah sudah menempatkan 300-an da’i di berbagai pelosok Nusantara, yang hanya mendapat honor antara Rp 250 ribu sampai Rp 500 ribu perbulan. Sampai saat ini baru 80 da’i yang honornya sudah Rp 500 ribu perbulan,’’ ungkap Syuhada sambil mencontohkan da’i di Lombok Timur, Ustadz Nadjamuddin, yang kebetulan hadir.
‘’Saudara Nadjamuddin ini baru 3 bulan terakhir menerima honor Rp 500 ribu, setelah bertahun-tahun bertugas di pelosok NTT,’’ terang Syuhada.
Dewan Da’wah, lanjut Syuhada, juga terus menyiapkan kader da’i melalui beasiswa pendidikan dakwah strata-3, strata-2, strata-1, dan non-gelar. Mereka menempuh studi di Akademi Dakwah Islam, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah M Natsir, dan berbagai perguruan tinggi mitra Dewan Da’wah seperti UI, UNS, Universitas Ibnu Khaldun Bogor, dan Universitas Islam As Syafiiyah. ‘’Para kader da’i harus mengabdi selama setahun di lapangan, sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi,’’ papar Syuhada.
Para da’i Dewan Da’wah dibekali dengan ilmu dakwah dan program-program sosial-kemanusiaan bertajuk ‘Da’i Datang Desaku Terang’, ‘Da’i Datang Desaku Rindang’ dan ‘Da’i Datang Perbatasan Tenang’.
Ade Salamun menjelaskan, ‘Da’i Datang Desaku Terang’ adalah program bantuan sarana penerangan berbasis teknologi yang praktis, murah, hemat, aman, dan ramah. Sarana ini menggunakan bola lampu LED (Light Emitting Diode) dan sumberdaya accu yang bisa di-charge.
‘’Bantuan penerangan diberikan kepada rumah keluarga jamaah, pondok da’i, rumah ibadah, rumah guru, dan jalan umum di tempat tugas para da’i,’’ tutur Ade.
Sedang melalui program ‘Da’i Datang Desaku Rindang’, para da’i mengajak masyarakat untuk menghijaukan lingkungan dengan tanaman keras maupun apotek hidup.
Rawannya daerah perbatasan, diantisipasi Dewan Da’wah dengan program ‘Da’i Datang Perbatasan Tenang’. Ade mengungkapkan, Juni tahun 2012 ini Dewan Da’wah akan memberangkatkan Kafilah Da’wah Mahasiswa STID M Natsir untuk bertugas di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan.
Usai menyimak pemaparan Syuhada Bahri dan Ade Salamun, para peserta dialog sepakat untuk mendukung program Dewan Da’wah. Sebagian dari mereka bahkan langsung memberikan komitmen untuk menanggung pembiayaan program tertentu, seperti disampaikan secara terbuka oleh Nasir Tajang.
‘’Sebenarnya persoalan kita bukan dana, tapi persatuan. Melalui forum seperti ini, insya Allah program dakwah yang berat jadi terasa ringan karena dipikul bersama,’’ tandas Abdurrahman Gayo.*/nb