Hidayatullah.com–Sikap Iran dalam mencermati berbagai gejolak di dunia Arab bukanlah berdasarkan mazhab. Pernyataan tersebut dikatakan Prof. Hassan Rahimpour Azghadi, selaku Anggota Dewan Kebudayaan Iran. Hal senada juga berlaku kepada Suriah. Hassan menampik jika kedekatan Iran terhadap Suriah dilandasi faktor Syiah. Sebab, menurutnya, Bashar al Assad sendiri bukanlah seorang Syiah.
“Dia adalah Alawi. Pemerintahannya juga bukan Syiah,” ujarnya kepada kepada hidayatullah.com, Senin (09/07/2012) lalu usai mengisi acara “Mahdawiyat dan Kebangsaan” di Universitas Paramadina Jakarta.
Ia mengklaim, kedekatan Iran kepada Suriah lebih karena kepentingan masyarakat Suriah yang menginginkan perubahan. Dan secara tegas Iran mengumumkan bahwa harus terjadi reformasi di Suriah.
“Reformasi itu sudah dilakukan secara perlahan-lahan oleh Bashar Assad dan rakyatnya,” katanya.
Dalam konsep politiknya, Iran selalu mengambil titik sentral antara Palestina dan Zionis Israel. Artinya siapapun yang mendukung Palestina adalah kawan bagi Iran. Dan siapa saja yang membantu atau bekerjasama dengan Zionis maka mereka adalah musuh Iran. Termasuk klaim hubungan dekat Iran dengan pejuang Hamas. Meski Hamas kelompok Sunni, Iran bisa bekerjasama, katanya.
“Jadi ini bukan masalah Sunni-Syiah,” tambahnya yang kerap hadir mengisi kajian agama di Channel-1 Iran.
Suriah sendiri adalah tempat bernanung dua kelompok perlawanan Zionisme yakni Hamas dan Hizbullah Dan menurutnya satu-satunya Negara yang tidak pernah mengkhianati perjuangan rakyat Palestina adalah Suriah.
“Sedangkan Negara-negara Arab lainnya memihak kepada Zionis,” tandasnya.
Hassan juga mengkritik sikap negara-negara Arab seperti Qatar dan Saudi yang begitu kuat dalam mendorong perubahan di Suriah. Namun ketika terjadi pergolakan di Bahrain dan Yaman, maka Arab Saudi dan Qatar justru meminta mempertahankan kekuasaan. “Ini sikap standar ganda.”
Namun pernyataan Hassan langsung ditolak sejarahwan dan penulis buku “Mengapa Hamas Dibenci Israel”, Tiar Anwar Bachtiar. Pengamat dunia Arab ini mempertanyakan klaim Iran sebagai satu-satunya Negara pendukung Hamas. Sebab pada kenyataannya banyak negara-negara lain ikut pendukung Hamas. Seperti Mesir yang baru-baru ini dipimpin Muhammad Mursy.
Menurut Tiar, rombongan relawan Mavi Marmara yang dibajak Zioinis-Israel juga diikuti oleh banyak Negara. “Mereka pasti ingin bertemu Hamas, bukan Fatah,” ujarnya.
Tiar juga mempertanyakan dukungan riil Iran untuk Hamas. Kandidat Doktor Sejarah UI ini menyatakan opini dukungan Iran terhadap Palestina baru belakangan ini saja terbentuk. Dalam sejarahnya, Iran tidak pernah ikut terlibat dalam perang melawan Israel. [Baca: Iran Dinilai Belum Pernah Perang Melawan Israel]
“Kalau riil harusnya Iran berani ikut perang,” tegasnya.
Sebelum ini, majalah Albayan, berpusat di Inggris menyebut, krisis Suriah tak bisa dilepaskan dari Syiah Nushairiyah.
“Jika krisis di Suriah dilepas dari semua unsur eksternal, seperti upaya kekuatan-kekuatan dunia untuk mempertahankan pengaruhnya, faktor keamanan Israel, serta “proyek bulan sabit” Syiah Shafawiyah (Iran), maka yang tersisa di dalam sebenarnya ada dua: Ahlus Sunnah dan sekte Syiah, baik itu Rafidhah ataupun Nushairiyah. Dengan kata lain, salah satu faktor penting yang justru memainkan peran yang sangat besar dalam krisis di Suriah adalah faktor ideologi atau agama.
Faktor ideologi ini, khususnya Nushairiyah, merupakan akar krisis Suriah, yang menjadi “bara dalam sekam” yang kemudian baru mencuat ke permukaan publik dunia lewat Syrian Spring,” begitu tulisnya. [Baca lengkapnya; Nushairiyah: Ideologi Di Balik Krisis Suriah].*