Hidayatullah.com—Berita tentang santri keluarga tidak mampu yang lolos Universitas Al Azhar Mesir di hidayatullah.com mendapat respon dari beberapa mahasiswa asal Indonesia yang kini sedang studi di Al Azhar.
Sambutan datang dari Mochammad Faiq Dzunnuraini, Faisal Zulkarnaen dan Zamzami Saleh.
“Saya selalu gembira dengan niat tulus para santri untuk menuntut ilmu di sini. Karena, untuk lulus tes saja itu sudah bukti dari kesungguhan mereka,” kata Zamzami Saleh, mahasiswa S1 Syariah Islamiyah tingkat akhir asal Padang, Sumatera Barat, kepada hidayatullah.com, Senin, (24/09/2012).
Sementara itu, Faisal Zulkarnaen, mahasiswa fakultas Ushuluddin, tingkat dua ini pun memberi ucapan yang sama.
“Selamat! Semoga ada yang memberi mereka bantuan atau menjadi orangtua asuh mereka. Jangan sampai harus berusaha menanggung biaya hidup sendiri sambil kuliah,” tutur penyuka fotografi ini.
Banyak Ujian
Menurut Zami, panggilan akrab Zamzami, memang banyak dari teman-temannya yang orangtuanya tidak mampu untuk membiayai kuliah mereka di Mesir.
“Secara kuantitas, saya tidak tahu persis berapa jumlahnya, namun saya punya banyak teman yang orangtuanya tidak bisa menghidupinya untuk kuliah di sini. Alhamdulillah, sampai sekarang mereka masih bisa bertahan, walau tentu saja harus hidup sederhana dan apa adanya,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan, biasanya, kendala utama urusan biaya adalah tahun pertama harus dihadapi oleh mahasiswa baru di Kampus Al Azhar.
“Yang jadi masalah biasanya adalah biaya untuk tahun pertama. Sedangkan untuk tahun selanjutnya ada banyak peluang bagi penghidupan. Jika dapat nilai bagus, peluang beasiswa banyak menanti. Di sini juga ada beberapa asrama mahasiswa yang sifatnya gratis tinggal, plus makan, jadi cukup membantu,“ ujarnya.
“Teman-teman saya banyak yang ambil alternatif ini. Beberapa teman saya ada juga yang survive (bertahan, red) dengan cara bekerja di tempat-tempat usaha mahasiswa seperti rumah makan,” terangnya lagi.
Sementara itu, Faiq, mahasiswa asal Tulungagung, Jawa Timur ini menilai bahwa selama ini banyak orang Indonesia yang berfikir bahwa masuk Al Azhar itu sulit, padahal yang lebih sulit adalah saat ujian kelulusannya.
“Orang Indonesia banyak yang berfikir masuk Al-Azhar itu sulit tapi belum tahu kalau mau lulus dari Al Azhar itu jauh lebih sulit. Kita lihat saja apa keempat orang ini bisa lulus S1 atau ga seperti yang komentar?,” ungkap mahasiswa S2 Tafsir Qur’an ini tersenyum sambil menunjuk dirinya sendiri saat diwawancarai hidayatullah.com.
Sebelumnya, ,media memberitakan empat santri lulusan Madrah Aliyah (MA) Hidayatullah Jogyakarta yang lolos tes masuk Universitas Al Azhar, Kairo. Di antara dua santri yang lolos itu, adalah anak seorang petani yang mengaku tidak memiliki bekal sebagai biaya hidup sehari-hari di tempat baru, di Mesir nanti.
“Aku harus berusaha untuk bisa hidup selama belajar di Mesir hingga lulus. Kalau perlu, seperti Azam, tokoh dalam “Novel Ayat-Ayat Cinta”-nya kang Abik; jualan tempe,” ujar Jundi sambil tersenyum.* [baca: Empat Santri Lolos Al Azhar, Anak Petani Bingung Biaya]