Hidayatullah.com—Berita tentang dua orang santri dari keluarga miskin yang lolos masuk Universitas Al Azhar, Mesir namun tak memiliki biaya membuat Mochammad Faiq Dzunnuraini, mahasiswa Al Azhar asal Tulungagung, Jawa Timur berbagi spirit.
Faiq mengaku, ia merupakan salah satu mahasiswa yang beruntung bisa melanjutkan kuliah hingga S2 di Al Azhar, Kairo. Kepada hidayatullah.com, ia menceritakan pengalamannya bahwa faktor nekat lah yang mendorongnya bisa masuk ke Al Azhar.
Ia mengaku jika masuk Al Azhar dengan modal sangat nekat. Dikatakan sangat nekat karena dirinya bukan berlatar-belakang dari madrasah dan pondok pesantren, tapi sekolah umum.
Keinginan yang tinggi itu membuatnya harus rela belajar bahasa Arab secara privat kepada orangtuanya.
“Setelah lulus SMU saya ngaji privat sama Abah dan itu sangat butuh semangat karena sendirian. Ngapalin ngajinya pun secara mandiri.Dari situ, saya terbiasa baca-baca buku bahasa Arab,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Senin (24/09/2012).
Kesulitan laoin yang dialami mahasiswa S2 Tafsir Qur’an tingkat akhir ini di daerahnya tidak ada alumni Al Azhar, sehingga susah untuk mencari informasi dengan baik.
Ia terpaksa harus mencarinya ke Departemen Agama (depag) Pusat di Jakarta dan harus rela menunggu selama dua tahun mengikuti ujian persamaan aliyah sembari menghafalkan al-Qur’an.
Lain halnya dengan Zamzami Saleh, mahasiswa tingkat akhir jurusan Syariah Islamiyah ini. Zamzani harus jualan proposal untuk mengumpulkan ongkos dan biaya hidup ke Mesir.
“Dulu saat mau berangkat ke Mesir, saya mesti “jualan” proposal ke toko-toko, masjid-masjid untuk mengumpulkan dana buat ke Mesir. Alhamdulillah lumayan buat nutupin ongkos dan hidup sebulan,” ungkapnya kepada hidayatullah.com.
Hanya saja, ia mengingatkan, bahwa kuliah di Al Azhar tidak selalu indah seperti yang pernah di filmkan di “Ayat-Ayat Cinta” ataupun “Ketika Cinta Bertasbih”.
“Bayangan kita tentang Azhar dan Mesir adalah kota ilmu di mana kita siap belajar dengan apapun kondisinya, insya Allah kita akan bertahan. Namun, kalau bayangannya adalah keindahan, saya tidak yakin motivasi itu bisa membuat kita istiqomah di sini,”tuturnya.
Hal senada diamini oleh Faisal Zulkarnaen, mahasiswa tingkat 2 Fakultas Ushuluddin yang mengatakan bahwa kuliah di Al Azhar tidak melulu selalu indah seperti di film yang selama ini diputar di Indonesia. Karena itu, motivasi mencari ilmu tetaplah tujuan yang harus diutamakan, agar kelak ilmunya bisa berkah.*
Baca juga: [Empat Santri Lolos Al Azhar, Anak Petani Bingung Biaya]