Hidayatullah.com–Pondok Pesantren Nuu Waar Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) menggelar acara peletakan batu pertama asrama santri putri, Kamis, 29 November 2012. Pembangunan asrama tersebut mendapatkan dukungan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) BNI Syariah Kantor Pusat.
Program yang diberi nama “Manajemen Syukur” ini memberikan bantuan sebesar Rp 200 juta. Selain untuk pembangunan asrama, BNI Syariah juga menyerahkan bantuan alat medis bagi santri AFKN yang telah meraih gelar bidan dan perawat dari Akademi Sehat Medan, Sumatera Utara. Dalam waktu dekat, tenaga medis sebanyak 50 orang ini akan diterjunkan ke Nuu Waar untuk menjalankan profesinya dan menebar dakwah Islam.
Dalam sambutannya, pimpinan Ponpes Nuu Waar AFKN, Ustadz Ahmad Husein Dahlan, Lc. MM menyampaikan ucapan terimakasih atas bantuan yang diberikan BNI Syariah.
“Semoga apa yang diberikan ini menjadi manfaat untuk proses pengkaderan kader dakwah AFKN yang dipusatkan di Kecamatan Setu,” ujar ustadz lulusan Madinah, Arab Saudi ini.
Sesungguhnya, tambah Ustadz Husein, pembangunan Ponpes Nuu Waar AFKN ini telah memulai pembangunan sejak empat bulan lalu.
“Alhamdulillah, sudah ada satu bangunan yang telah selesai. Bangunan itu juga merupakan sumbangan umat Islam, baik secara perorangan ataupun lembaga,” jelas Ustadz Husein. Ia juga mengatakan, dana itu dikelola secara mandiri sehingga menghasilkan pembangunan yang maksimal, serta manfaat yang lebih besar.
Di akhir sambutannya, Ustadz Husein berharap silaturahim antara Ponpes Nuu Waar AFKN dan BNI Syariah tidak berakhir sampai di sini.
“Kami tak berharap BNI Syariah tidak sekedar membantu secara fisik, tapi juga bisa berkontribusi dalam melahirkan kader-kader ulama dari generasi Nuu Waar,” harapnya.
Sementara itu, dalam sambutannya Ketua Umum AFKN, Ustadz M Zaaf Fadzlan R Garamatan menjelaskan tentang alasan mendirikan pesantren di Pulau Jawa. Menurutnya, setelah AFKN berkiprah dakwah selama 27 tahun di pelosok Nuu Waar, telah melakukan upaya untuk menempatkan menempatkan anak-anak asli Nuu Waar yang mualaf, yatim, dan dhuafa di pesantren yang ada di daerah asal masing-masing. “Tapi rata-rata hanya bertanya 10 hari, hari berikutnya sudah pulang ke rumah,” kenangnya.
Berbeda ketika anak-anak itu kita datangkan ke Pulau Jawa dengan mengontrak rumah di Pondok Hijau Permai Bekasi.
“Subhanallah ternyata hasilnya lebih menggembirakan. Bahkan, anak-anak itu tidak hanya belajar agama, tapi mereka juga punya kesempatan untuk menyesuaikan diri sebagai anak dari negara Republik Indonesia,” jelas pria kelahiran Patipi, Fakfak, Papua Barat. Dengan pengalaman dan kesempatan belajar demikian, ketika mereka diterjunkan ke daerah asal, tambah Ustadz Fadzlan, mereka berkembang dengan mendakwahkan Islam dan mengajarkan untuk menjadi orang Islam harus menjadi orang Indonesia yang benar.
Maka, sebagai bentuk keseriusan komitmen dalam melakukan pembinaan SDM generasi Muslim Nuu Waar, sejak enam tahun silam AFKN mencicil pembelian tanah di Kecamatan Setu, Bekasi.
“Alhamdulillah atas petunjuk Allah Subhanahu Wata’ala, kini kita sudah membebaskan tanah seluas 2,5 hektar, dan akan segera dibebaskan lagi menjadi 5 hektar,” aku Ustadz Fadzlan. Ini, papar Ustadz Fadzlan, karena doa dari seluruh umat Islam di Indonesia untuk masyarakat Nuu Waar, terutama doa 5.800 anak-anak Nuu Waar yang tersebar dari Makassar hingga Aceh.
“Dengan doa mereka, keberkahan Allah melalui UPZ BNI Syariah bisa datang ke tempat ini. Semoga kebaikan yang dituangkan oleh keluarga besar BNI Syariah melalui UPZ akan dibalas dengan berlipat ganda, baik di dunia maupun di yaumil qiyamah,” harap Ustadz Fadzlan.
Ia menguraikan, untuk membangun Indonesia ke depan, terutama di bumi paling timur Papua, satu-satunya adalah membentuk SDM yang berlandaskan nilai-nilai al-Qur’an.
“Pekerjaan ini yang sedang AFKN realisasikan dengan membuat kegiatan pendidikan, sehingga dengan itu akan tumbuh kesadaran Islam dan keutuhan NKRI,” ucapnya seraya menjelaskan tekadnya untuk melahirkan 15 ribu tenaga dai yang berperan sebagai bidan dan guru hingga tahun 2025.
Menanggapi penjelasan pimpinan AFKN itu, Direktur Utama BNI Syariah, Dinno Indiano, dalam sambutannya menyatakan bahwa cita-cita Ustadz Fadzlan sangat mulia. “Kita semua tahu upaya dan cita-cita mulia yang ingin diwujudkan Ustadz Fadzlan. Saya secara pribadi mengetahui tentang perjuangan Ustadz Fadzlan ini dari beberapa tahun lalu. Sehingga pada hari ini kita menyampaikan bantuan Rp 200 juta dan bantuan alat medis,” paparnya di hadapan para hadirin acara peletakan batu pertama asrama putri.
Lebih lanjut Dinno Andiano menjelaskan, program CSR BNI Syariah ini lebih difokuskan pada bidang pendidikan.
“Alhamdulillah, program Manajemen Syukur BNI Syariah mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai program CSR Peduli Pendidikan untuk kategori BUMN,” jelas Dinno.*
BNI Syariah mulai beroperasi sejak tahun 2000 sebagai unit usaha dari BNI. Namun, sejak 19 juni 2010, BNI Syariah resmi memisahkan diri.*