Hidayatullah.com — Rencana penyelenggaran acara puncak Miss World atau Miss Universe tahun 2013 di Indonesia dinilai mengada-ada dan dipandang tak akan memberi dampak positif di tengah kondisi bangsa Indonesia yang terus didera masalah etika dan moralitas.
Untuk itu, tidak ada alasan untuk tidak menolak helatan yang dijadwalkan akan direlay secara langsung stasiun televisi dunia ini. Demikian dikatakan anggota Dewan Syura PP Hidayatullah Akib Junaid dalam perbincangan dengan hidayatullah.com, Selasa (16/04/2013).
“Di tengah kondisi bangsa saat ini yang dilanda krisis etika dan keadilan sosial, sangat tidak pantas kalau kemudian perhelatan sia-sia seperti itu digelar. Dalih bahwa hal itu akan mengharumkan nama Indonesia juga mengada-ada,” kata Akib Junaid.
Sebagaimana diwarta acara puncak Miss World 2013 dijadwalkan oleh penyelenggara akan digelar di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor-Jabar pada 28 September 2013. Dilaporkan bahwa pantia acara, RCTI dan perwakilan Miss Indonesia sudah berkeliling untuk mengadakan pendekatan berbagai pihak.
Akib juga menampik argumen kontes Miss World akan mendongkrak kunjungan wisatawan ke negara para kontestan, sebab faktanya tidaklah demikian.
Ia menyebutkan data dari sebuah sumber mencatat bahwa Venezuela adalah negera pemenang Miss Universe 2008 dan 2009, namun kunjungan wisata ke negara tersebut justru minus 3 persen.
Termasuk Kanada, negara pemenang Miss Universe tahun 2005. Sejak menang Miss Universe, kata Akib, kunjungan turis ke Kanada turun drastis dari 18 juta orang tinggal 17 juta orang.
“Kontes ini secara nyata telah melakukan eksploitasi tubuh perempuan. Namun, agar itu tidak nampak eksplisit, ia kemudian coba diformalisasi dengan memasukkan kriteria lain selain aspek fisik dengan mengkampanyekan jargon brain, beauty, dan behavior,” ujarnya.
Secara akal sehat saja, lanjut Akib, peran nyata Miss Universe dalam keterlibatannya mengatasi masalah kebangsaan dunia yang menjadi konsennya, tak terlalu menunjukkan bukti signifikan. Selain itu, kegiatan ini dinilai hanyalah proyek industri segelintir pihak yang bersembunyi di balik kedok kontes dunia.
“Yang terpenting kita harus memperkuat diri, menjaga spiritual kita. Tapi itu saja tentu tidak cukup, kita harus terlibat aktif memperbaiki sistem yang ada hari ini,” tukasnya.
Akib berharap pemerintah, aparat di bawahnya, serta masyarakat luas ikut terlibat aktif menjaga kultur keindonesiaan negeri ini dari sentimen budaya paganisme yang datang dari Barat.
“Kita jangan memberi peluang Miss World menjadi sesuatu hal yang legal, ini harus kita tolak keras,” tegasnya.
Diketahui, kontes Miss World dicetuskan pertama kali oleh Eric Morley pada tahun 1951 di Inggris. Kali pertama diadakan sebagai kontes bikini, tetapi kemudian oleh media disebut-sebut sebagai Miss World. Setelah kematiannya pada tahun 2000, Istri Morley, Julia Morley, menggantikannya sebagai ketua.*