Hidayatullah.com–Terjun ke dunia politik digambarkan seperti menjalani pertandingan panjat pohon pinang. Untuk terjun ke dunia politik, lebih-lebih duduk di parlemen, seorang wakil rakyat harus kuat pertahanan.
Namun, apabila tidak kuat, politisi atau birokrat bisa jadi akan terjerembab masuk ke dalam perangkap yang disebut Akib sebabagi “lingkaran setan”. Demikian dikatakan Ustadz Akib Junaid, dai lintas nusantara.
Dunia politik, ujar Akib penuh kemelut seperti dalam filosofi lomba panjat pinang. Pesertanya harus siap “berkotor-kotor”, siap “lepas baju”, siap “dinjak-injak” dan siap “menampakkan kemaluan”.
Pria yang juga anggota Dewan Syura PP Hidayatullah, ini menjelaskan orang yang ikut lomba panjat pinang harus siap berkotor-kotor, begitu pula yang kerap berlaku dalam dunia politik.
“Jadi harus kuat pertahanan. Kalau tidak kuat pasti akan ikut kotor. Politik seperti lomba panjat pinang, pohon pinang memang sengaja dikotori dari sananya. Dilumuri oli pelumas, diberikan grease atau gemuk agar licin,” selorohnya dalam perbincangan dengan hidayatullah.com, Rabu (17/04/2013).
Orang yang terjun di ranah politk dan parlemen yang sarat dengan kepentingan, harus kuat pertahanan idealismenya, karena jika tidak ia bisa terjebak untuk rela “lepas baju”. Lepas baju, jelas Akib, maksudnya adalah lepas komitmen.
“Seperti panjat pinang, peserta lomba panjat pinang harus lepas baju, siap berkotor-kotor. Wakil rakyat yang tidak pro rakyat, itu berarti telah melepas bajunya,” imbuhnya.
Selain harus melepas baju, peserta lomba panjat pinang juga harus siap diinjak-injak dan menginjak-injak. Ini pula yang kerap berlaku di dunia politik. Untuk sebuah kepentingan, pihak satu tega menginjak pihak lainnya.
“Makanya dalam dunia politik populer isitilah politik belah bambu. Ada yang diinjak, ada yang diangkat,” katanya.
Meski demikian, tak sepenuhnya perpolitikan di Indonesia seperti tergambar dalam filosofi tradisi panjat pinang tersebut. Sebab tidak menutup kemungkinan masih ada dari wakil rakyat yang ikhlas memperjuangkan kepentingan-kepentingan rakyatnya, bukan kelompoknya semata.
“Kita bedoa semoga negeri ini dberikan keberkahan dan kemuliaan oleh Allah dengan rakyatnya yang relijius, wakil rakyatnya amanah, dan kekayaan alamnya yang dikelola dengan baik untuk kesejahteraan rakyat,” harap Akib.*