Hidayatullah.com–Wakil Walikota Banda Aceh, Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE menceritakan kebijakan Pemerintah Kota Banda Aceh menertibkan operasional gereja ilegal beberapa waktu yang lalu. Hal ini dijelaskan Illiza secara panjang lebar, Selasa (23/4/2013) saat menerima kunjungan tim Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Probolinggo di ruang rapat Walikota, Komplek Balaikota Banda Aceh.
Kata Illiza, kebijakan penertiban gereja yang dilakukan pihaknya untuk menjaga hubungan dan menjaga kelangsungan kerukunan antarumat beragama di Banda Aceh.
Menurutnya, gereja ilegal yang dijadikan lokasi untuk tempat beribadah adalah bangunan-bangunan yang tidak terdaftar sebagai rumah ibadah resmi, seperti bangunan ruko, rumah tinggal, dan lainnya, yang menyebabkan timbulnya keresahan warga sekitar bangunan tersebut.
“Bukannya kita tidak toleran terhadap saudara-saudara kita yang Katolik dan Protestan, tapi yang kita lakukan ini mengacu kepada SKB 3 Menteri tentang pendirian rumah ibadah. Kita persilakan mendirikan rumah ibadah baru, tapi tetap harus mengikuti prosedur dan undang-undang yang berlaku,” jelas Illiza, dalam The Globe Journal.
Dikatakannya lagi, kebijakan yang diambil oleh Pemko waktu itu juga hasil pertemuan dengan FKUB Kota yang di dalamnya sudah mewakili semua agama.
Illiza mengatakan, di Banda Aceh dan di Aceh pada umumnya tidak pernah terjadi konflik sara. Meskipun masyarakat kota sangat heterogen dan mayoritas penduduknya muslim, namun tidak pernah melakukan hal-hal yang diskrimintatif terhadap kaum minoritas.
Bahkan Pemko memberikan ruang kepada penduduknya yang menganut agama lain selain Islam untuk merayakan hari besarnya dan memberikan ruang untuk mengembangkan kebudayaannya.
Ketua FKUB Probolinggo, Kyai Idrus Ali menjelaskan, maksud kedatangan tim FKUB Probolinggo yang berjumlah 30 orang ke Banda Aceh untuk silaturrahim. Dan yang kedua untuk melihat kehidupan dan kerukanan umat beragama di Banda Aceh yang sangat harmonis.
“Kita punya program setiap tahunnya untuk studi banding, kita pilih Banda Aceh karena ingin mempelajari bagaimana Muslim yang mayoritas mampu memberikan rasa aman kepada penganut dari agama lain yang minoritas dan dapat hidup berdampingan secara rukun. Dulu kita pernah ke Manado dan Bali yang penduduknya lebih banyak penganut Kristen dan Hindu,” ujar Idrus.*