Hidayatullah.com—Meski banyak dihambat kalangan LSM, komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk melakukan penutupan terhadap lokalisasi prostitusi berlanjut.
Minggu lalu, Pemkot melanjutkan komitmennya dengan sebuah deklarasi penutupan lokalisasi di area lokalisasi Moroseneng, kelurahan Sememi, Benowo Surabaya.
“Alhamdulillah acara deklarai penutupan lokasi prostitusi Moroseneng Sememi lancar,” tutur Ustad Muflihin Arif, dai di bawah binaan Dinas Sosial Kota Surabaya pada hidayatullah.com.
Menurut ustadz yang aktif melakukan pembinaan kepada Wanita Tuna Susila (WTS) di daerah Moroseneng tersebut, acara dekalarasi berjalan lancer meski ada sedikit protes beberapa orang Mucikari dan WTS yang menolak untuk dipulangkan.
“Pada sore hari sekitar pukul 15.00 WIB beberapa mucikari dan WTS unjuk rasa menolak pemulangan,”ungkap Ustad Muflihin.
Menurut Muflihin sekitar 400 orang WTS dan 37 Mucikari selama ini beroperasi di wilayah lokalisasi Moroseneng Surabaya.
Pasca deklarasi penutupan, mereka akan di data ulang kemudian diberi uang saku dan ongkos pemulangan.
“Habis deklarasi ini akan ada verifikasi ulang kemudian pemberian uang saku dan pemulangan,” ucap Ustad Muflihin.
Seperti diberitakan sebelumnya, meski ada penolakan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM), para mucikari dan WTS, Pemerintah Kota Surabaya mengabarkan tetap akan menutup kawasan prostitusi Dolly dan beberapa tempat maksiat di Surabaya pada tahun 2014 nanti
Kecuali beberapa LSM kecil, sebelum ini, berbagai organisasi kemasyarakatan setuju penutupan lokalisasi di Surabaya. Termasuk NU dan Muhammadiyah.*