Hidayatullah.com- Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengaku sering bertanya tentang sejarah perkembangan buku-buku Islami dengan baik di Indonesia. Dari jawaban yang didapatkan, perkembangan itu dimulai sejak terjadi krisis moneter pada 1998 lalu.
“Ya, waktu krisis 98. Ada dua buku yang laku dijual. Yang pertama buku novel yang seksi, yang kedua buku agama. Jadi orang-orang yang mungkin terkena krisis, kemudian dia arahnya dua. Dia mungkin bersenang-senang, atau ingin berdoa, ‘mudah-mudahan lebih pulih ini keadaan’. Dan ternyata itu berhasil,” beber JK pada pembukaan 13th Islamic Book Fair (IBF) 2014/1435 di Istora Senayan Jakarta, Jumat, (28/02/2014).
Namun, lanjut JK, bukan berarti saat tidak krisis masyarakat Indonesia tidak membaca buku agama. Bahkan kini saatnya umat berperan dalam perbukuan.
Menurut JK, membaca buku bukan hal sederhana. Rangkaiannya tidak sebatas buku, penulis, penerbit, dan penjual. Semuanya saling terkait dalam upaya beramar ma’ruf nahi mungkar.
“Orang ingin maju butuh teknologi. Teknologi butuh pendidikan. Pendidikan butuh buku. Buku perlu penulis. Penulis butuh penerbit. Penerbit butuh penjualan. Penjualan akan menyebabkan pembaca. Jadi membaca itu panjang urusannya,” lanjut JK yang hadir sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia.
Sehingga, lanjutnya, rangkaian penulis, penerbit, penjual, pembaca harus diikuti dalam dunia perbukuan Islam di Indonesia. Titik kuat dan titik lemahnya harus diperhatikan.
“Kita lihat buku yang ada, saya kira penulis tadi belum terlalu banyak. Masih banyak buku terjemahan. Itu tidak soal, itu juga suatu hal yang penting,” ujar JK dengan logat Makassarnya di depan ribuan pengunjung IBF 2014.
Perbukuan Islam Membaik
Menurut JK, ulama Indonesia yang paling banyak menulis adalah Buya Hamka dan Quraish Shihab. JK juga menyebut pendiri Ar-Rahman Qur’anic Learning Center (AQL) Ustadz Bachtiar Nasir.
“Tapi perlu lebih banyak lagi orang seperti itu,” imbuhnya.
Sementara di bidang penerbitan, JK menilai sudah cukup disyukuri. Sedangkan yang kurang adalah penjualnya.
“Toko-toko buku banyak, walaupun memang buku campuran, bukan hanya buku Islam. Semua toko buku juga tentu menjual bahagian-bahagian buku Islami,” ujarnya, seraya mengajak hadirin mensyukuri perkembangan baik tersebut.
Jk mengatakan, rangkaian dunia perbukuan tersebut dapat mengantarkan masyarakat menjadi lebih baik. Sebab, dengan membaca masyarakat akan mendapatkan ilmu pengetahuan.
“Dengan ilmu pengetahuan kita menjadi orang yang mulia di sisi Allah subhanahu wata’ala. Dan hanya orang yang berilmu yang dianggap yang mulia di sisi Allah,” jelasnya.
Kemuliaan itu akan tercapai, asalkan, kata JK, proses rangkaian perbukuan di Indonesia juga berjalan dengan baik. Pembaca tentu akan membaca buku-buku yang baik, dari penerbit yang baik, penjual yang baik, dan makna yang baik.
“Dan itu apabila tidak dipenuhi secara utuh, saya kira kita tidak akan mendapatkan ilmu, ‘Iqra”, yang tadi disampaikan,” ujarnya, seraya menyinggung pembacaan berjamaah surat al-Alaq ayat 1-5 di awal acara tersebut.
JK pun berharap, kumpulan para penerbit, penjual, dan pembaca di IBF 2014 akan memuliakan masyarakat Indonesia.*