Hidayatullah.com– Indonesia membutuhkan pemimpin zuhud. Karakter orang zuhud, tidak identik miskin. Tapi juga tidak semata mengandalkan harta yang dimiliki.
Demikian disampaikan Pimpinan Daarut Tauhiid (DT), KH. Abdullah Gymnastiar, belum lama ini Jakarta.
Menurutnya, orang berkarakter semacam itu memiliki keyakinan tinggi terhadap janji Allah. Dalam dadanya, penguasa langit dan bumi itu berada pada posisi tertinggi.
”Misalnya, punya uang Rp. 100 milyar, tapi nafas dikasih Allah sedikit dan jantung dipelanin, gimana? Makanya, jangan suka aman dengan tabungan, aman dengan deposito, aman dengan tanah, aman dengan aset. Gampang sekejap Allah ambil semua ini,”ucapnya.
Melihat fenomena para Assatidz (para ustad) yang mulai banyak diundang ke berbagai instansi pemerintahan dan lingkungan para pengusaha, Aa punya pendapat serupa. “Ustadz diundang ke Mabes TNI. Ah, biasa saja.
Jangan menjadi kagum. Kalaupun mau kagum dan memuliakan, adalah memuliakan yang dimuliakan Allah. Tempat yang dimuliakan Allah, Baitullah. Nah, itu benar karena kita memuliakan yang dimuliakan oleh penguasa langit dan bumi,”tukasnya.
Kalaupun ada orang yang harus dimuliakan, standar ukurannya adalah memuliakan orang yang Allah cintai. Orang semacam itu adalah orang bertakwa karena dia menakuti Allah.
“Orang yang takut ke Allah pasti susah maksiatnya. Mau dimana sembunyi dari Allah? Kalau orang sudah cinta dunia, tidak ada sisa di hati untuk Allah,”jelasnya.
Wajar lihat Pejabat
Ia juga mengajak bersikap sewajarnya dalam memperlakukan pejabat. Kalau perlu, kekaguman pada mereka tidak perlu ada.
“Jangan kagum lihat pejabat. Ada saudara jadi pejabat, kagum. Kartu namanya dibawa kemana-mana. Tapi pas ditahan (penjara), baru disembunyikan kartunya,”kritik Aa Gym.
Ada masanya seseorang menduduki kursi kekuasaan. Tapi itulah roda kehidupan. Takdir Allah menempatkan mereka sebagai pengemban amanat rakyat.
“Makanya, kita kalau diundang ke Istana biasa saja. Sama dengan diundang ke Daarut Tauhid. Ya, senang aja melihat ciptaan Allah. Tapi nggak usah merasa gimana gitu,”ulas dai kondang yang lebih dikenal dengan panggilan Aa Gym.
Lebih lanjut Aa meluruskan pernyataannya.
“Saya mengatakan ini bukan untuk merendahkan pejabat. Bukan! Biasa saja. Hormat ya hormat biasa yang layak. Tapi, di sini tidak ada kekaguman terhadap jabatan. Jadi, nantinya kita bukan hormat karena kaya, merunduk-runduk,”katanya.*