Hidayatullah.com—Di tengah kehadiran beragam media wanita di tanah air, majalah muslimah, Ummi mampu bertahan selama 25 tahun. Majalah dengan moto ‘Identitas Wanita Islami’ mengaku tetap dinanti pembacanya walaupun terdapat perubahan tren pola baca media cetak ke digital.
“Saat ini, kami stabil diangka 35-50 ribu eksemplar/bulan. Kami punya pembaca loyal,”jelas Direktur Ummi Group, Dwi Septiawati saat ditemui hidayatullah.com saat perayaan “25 Tahun Ummi di Rumah Dunia”, Serang, Banten Sabtu pekan lalu.
Menurut ulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu, dalam sebulan oplah Ummi mencapai 35-50 Ribu eksemplar. Dengan harga banderol sebesar Rp. 30 Ribu/eksemplar, Ummi tetap memiliki pembaca loyal.
Ia mengaku majalah ini sempat mencapai oplah tertinggi dalam sejarahnya, yakni mencapai 115 ribu eksemplar/bulan. Namun, itu hanya bertahan dua tahun, mulai 2001-2002.
Tren media digital dan kehadiran gadget diangkui sangat mempengaruhi penurunan tiras majalah Ummi. Septa-panggilan Dwi Septiawati, mengatakan pihak sangat menyadari hal tersebut.
Dalam perjalananya, ada pembenahan manajemen dan SDM. Evaluasi dilakukan sampai ke jaringan distribusi. Dalam beberapa tahun terakhir, pihaknya lebih disiplin melakukan penagihan. Retur majalah diambil secara berkala. Sesuai kebijakan manajemen.
Ummi bahkan memangkas jaringan distributor yang belum bisa memenuhi kesepakatan.
“Sebagai institusi bisnis, bukan hanya cetak banyak dan tersebar di mana-mana, tapi juga mulai mengetatkan pembayaran, penarikan retur. Dampaknya pada pemotongan tiras, tapi kami lebih bisa membenahi manajemen,”jelasnya.
Wanita Berkiprah
Mengaku mengawali karir di Ummi Group sebagai Pimpinan Redaksi Annida, Septa mengatakan majalahnya berpandangan memilih memberi keluasan wanita berkiprah dengan batasan yang tetap membolehkan para isteri berkiprah di ruang publik, tapi tetap mengacu pada kodrat dan kewajibannya sebagai ibu pendidik anak-anak.
“Kami tidak berada di wilayah ekstrim kanan yang menolak segala bentuk partisipasi perempuan di publik dan hanya di rumah saja. Atau, kami tidak juga berada di ekstrim kiri, keluar rumah sebebas-bebasnya,”ucapnya.
Dalam pembahasannya, pihaknya mencoba mengambil nilai-nilai terbaik sesuai kaidah syariah. Tidak hanya diatas kertas nilai-nilai itu tercetak. Para awak media Ummi juga diharapkan menjadi representasi atas nilai-nilai tersebut.
Septa mengatakan, nilai-nilai kebenaran yang disebarkan kepada masyarakat harus juga dimiliki orang-orang Ummi sendiri.
“Kalau berbicara menjadi “zaujah wa mut’iah karimah”, istri solehah dan taat, teman-teman Ummi harus bisa menjadi repsentasi,”tukasnya.*